Politik

Berulang Kali Diajak Mengkudeta AHY di Demokrat, Ini Pengakuan Gatot Nurmantyo


BERITA NASIONAL – Sempat diajak mengkudeta kepemimpinan atau melengserkan AHY di Demokrat, Jendral TNI Gatot Nurmantyo ungkapkan pengakuan dan ingat jasa SBY.

Seperti di ketahui, kudeta Partai Demokrat masih terus memanas. Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), terlihat murka saat menggelar jumpa pers di kediamannya Cikeas, Bogor, Jumat (5/3) malam lalu.

SBY juga menyikapi peristiwa Kongres Luar Biasa (KLB), yang di buat para mantan kader Demokrat di Deli Serdang, Sumatera Utara. Dalam KLB itu, KSP Moeldoko di daulat sebagai ketua umum.

Baca juga : Anas Urbaningrum Tiba-tiba Muncul Setelah Moeldoko dan KLB Demokrat?

Rupanya, Gatot Nurmantyo juga sempat di ajak mengkudeta Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono atau AHY.

Ajakan tersebut di lakukan sebelum KLB di gelar di Sumut, yang di tentukan Moeldoko menjadi Ketua Umum Demokrat. Saat di ajak, Gatot mengaku langsung teringat kenangan di Istana.

Melansir dari akun Instagram nurmantyo_gatot, Minggu (7/3), simak ulasan informasinya berikut ini. Baca penjelasan Gatot Nurmantyo.

Diajak Kudeta AHY

Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo, mengaku sempat di ajak dalam kudeta AHY. Bahkan, dia juga mengungkapkan satu visi, yang di dengarnya pada orang-orang kudeta tersebut.

“Banyak yang bertanya kepada saya, ‘Pak, Bapak juga digadang-gadang menjadi …’. Ya saya bilang ‘Siapa sih yang enggak mau. Partai dengan 8% kalau enggak salah kan, besar, dia mengangkat Presiden. Segala macam kaya gitu ‘. Ada juga yang datang sama saya,” katanya.

“Respon Bapak? Respon Bapak gimana ?,” tanya Arief.

“Datang, ‘Wuh menarik juga’ saya bilang. Gimana prosesnya? Begini pak, nanti kita bikin KLB. KLB terus gimana? Ya nanti visi yang di lakukan, adalah kita mengganti AHY dulu. Mosi tidak percaya, AHY turun. Setelah turun, baru pemilihan, ‘Bapak nanti pasti deh begini, begini’. Oh begitu ya, saya bilang begitu gitu,” jelasnya lagi, di lansir dari TERDEPAN.id.

“Saya bilang menurunkan AHY, saya bilang gini loh ‘Saya ini bisa naik bintang satu, bintang dua, taruh lah itu biasalah. Tapi kalau begitu saya naik bintang tiga, itu Presiden pasti tahu kan gitu. Kemudian jabatan Pangkostrad, pasti Presiden tahu. Apalagi Presidennya Tentara waktu itu Pak SBY ya kan. Tidak sembarangan gitu. Bahkan saya Pangkostrad yang di panggil oleh SBY ke Istana, ‘Kamu akan saya jadikan Kepala Staf Angkatan Darat’. Karena saya terima kasih atas penghargaan ini dan akan saya pertanggungjawabkan. ‘Melaksanakan tugas dengan profesional. Cintai prajuritmu dan keluarga, dengan segenap hati dan pikiranmu. Itu saja Selamat ‘. Beliau tidak titip apa-apa, tidak pesan lainnya lagi,” ungkapnya.

“Maksud saya begini, apakah iya saya di besarkan oleh dua Presiden. Satu Pak Susilo Bambang Yudhoyono, satu lagi Pak Joko Widodo kan gitu. Terus saya pakainya dengan mencongkelkan rakyat ?,” sambungnya.

SBY Menyesal

Di samping itu, SBY juga menyinggung langkah Moeldoko memalukan prajurit TNI, di mana yang seharusnya berjiwa kesatria. Dia pun malu dan menyesal, telah memberikan kesempatan Moeldoko menjadi Panglima TNI.

“Termasuk rasa malu dan rasa sakitku, yang dulu beberapa kali memberikan kepercayaan dan jabatan. Dan mohon ampun kehadirat Allah Subhanahu Wata’ala, Tuhan yang Maha Kuasa, atas kesalahan saya itu,” kata SBY.

Pidato Pertama Moeldoko

“Saya sama sekali tidak punya kekuatan untuk berangkat-saudara untuk memilih saya, tapi semua lahir dari keyakinan. Pak Marzuki Alie punya pengalaman di partai politik yang luar biasa, saya punya pengalaman di Militer dan pemerintahan. Para pendiri parpol Demokrat, para senior memiliki filosofi dan kebijakan yang sangat tinggi, para DPP, DPC, dan organisasi sayap memiliki semangat yang menggelegar, luar biasa. Jadi kalau semua kekuatan ini di satukan, maka akan menggemparkan Indonesia,” kata Moeldoko.

AHY Melawan

Keempat, di daulatnya Moeldoko menjadi ketua umum Demokrat, merupakan bentuk pelecehan. Hal itu di lakukan hanya demi ambisi pribadi.

Tentu melecehkan, aturan dan segala prinsip yang di atur dan di gunakan oleh Demokrat selama ini, demi ambisi pribadi, demi kepuasan politik sendiri. Agenda yang kita tidak tahu sampai sejauh mana itu, akan di lakukan.

“KLB ini bisa di katakan dagelan. Saya tidak bisa menerima,” tegas AHY.

“Jangan cederai akal sehat, jangan injak etika moral dalam politik yang berkeberadaban,” tambahnya.

 



Source link

Klik untuk berkomentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

Copyright © 2020 TERDEPAN.ID.

Ke Atas