Teknologi

Nietzsche dan Krisis Kebenaran: Filsafat Tak Lagi Cari Kepastian

Perdebatan tentang hakikat kebenaran kembali mencuat dalam wacana filsafat kontemporer. Pemikir asal Argentina, Darío Sztajnszrajber, dalam wawancara ekskl

Nietzsche dan Krisis Kebenaran: Filsafat Tak Lagi Cari Kepastian

Perdebatan tentang hakikat kebenaran kembali mencuat dalam wacana filsafat kontemporer. Pemikir asal Argentina, Darío Sztajnszrajber, dalam wawancara eksklusif dengan LA NACION, mengupas bagaimana pencarian kebenaran absolut yang menjadi ciri filsafat tradisional kini berbenturan dengan arus pemikiran modern yang justru meragukan eksistensi kebenaran itu sendiri.

Menurut Sztajnszrajber, definisi filsafat sebagai upaya mencari kebenaran telah mengalami pergeseran besar. Ia menyoroti paradoks yang muncul ketika sejumlah aliran filsafat menyimpulkan bahwa manusia akhirnya menemukan kebenaran, namun kebenaran yang ditemukan adalah bahwa tidak ada kebenaran tunggal. Gagasan ini merujuk pada warisan pemikiran Friedrich Nietzsche, filsuf Jerman yang terkenal dengan pernyataan kontroversialnya: "Tidak ada fakta, hanya ada interpretasi."

Filsafat dan Tiga Lapis Kebenaran

Dalam dialog tersebut, Sztajnszrajber membedakan tiga jenis kebenaran yang kerap disamakan dalam percakapan sehari-hari. Ia menegaskan bahwa kebenaran yang berlaku dalam rutinitas harian berbeda secara fundamental dari kebenaran ilmiah maupun kebenaran filosofis.

"Satu hal adalah kebenaran cotidiana, hal lain adalah kebenaran ilmiah, dan hal lain lagi adalah kebenaran filosofis. Ketiganya tidak bisa diperlakukan dengan ukuran yang sama," ujar Sztajnszrajber.

Pembedaan ini penting karena kebenaran sehari-hari bergantung pada eksekusi mekanis dan fungsi praktis, sementara kebenaran ilmiah menuntut verifikasi metodologis, dan kebenaran filosofis justru hidup dalam ruang pertanyaan yang tak pernah selesai.

Kronologi Pergeseran Pemikiran

  1. Era klasik: Filsafat didefinisikan sebagai pencarian kebenaran absolut yang dapat ditemukan manusia melalui rasio.
  2. Abad ke-19: Nietzsche mengguncang fondasi tersebut dengan menyatakan tidak ada fakta objektif, hanya interpretasi yang saling bersaing.
  3. Filsafat kontemporer: Muncul kesimpulan bahwa "kebenaran adalah tidak adanya kebenaran" — sebuah paradoks yang menjadi ciri krisis kepastian.
  4. Masa kini: Kehidupan modern yang menuntut efisiensi dan hasil cepat membuat manusia terjebak pada kebenaran praktis, melupakan pertanyaan filosofis yang lebih dalam.

Sztajnszrajber menilai bahwa hidup terlalu singkat jika segala sesuatu harus selalu berorientasi pada hasil. Obsesi terhadap produktivitas, menurutnya, mengikis ruang bagi pemikiran kritis yang mampu mempertanyakan struktur-struktur yang membentuk eksistensi manusia.

Urgensi Berpikir Kritis di Tengah Krisis Kepastian

Ia menekankan bahwa nalar kritis memungkinkan seseorang menolak menerima realitas begitu saja. Dengan mempertanyakan struktur yang mengondisikan hidup, manusia dapat membebaskan diri dari belenggu kepastian semu yang ditawarkan oleh zaman.

  • Kebenaran cotidiana: bersifat mekanis, praktis, dan bergantung pada fungsi sehari-hari.
  • Kebenaran ilmiah: menuntut bukti empiris dan dapat diuji ulang.
  • Kebenaran filosofis: terbuka, problematis, dan tak pernah final.
  • Pemikiran Nietzsche: menolak fakta tunggal, menekankan interpretasi sebagai dasar realitas.

Pandangan ini menegaskan bahwa filsafat bukan sekadar disiplin akademis, melainkan praktik hidup yang mengajak manusia berani hidup dalam ketidakpastian. Krisis kepastian bukanlah akhir dari filsafat, melainkan justru ruang tempat filsafat menemukan relevansinya kembali.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User