Teknologi

Kebakaran Hutan Kalimantan Makin Parah, BNPB Siaga Darurat Karhutla

Langit Kalimantan kembali berubah abu-abu. Asap tebal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini terlihat jelas bahkan dari citra satelit Google Maps, sebuah gambaran betapa luasnya wilayah terdampak. ...

Kebakaran Hutan Kalimantan Makin Parah, BNPB Siaga Darurat Karhutla

Langit Kalimantan kembali berubah abu-abu. Asap tebal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini terlihat jelas bahkan dari citra satelit Google Maps, sebuah gambaran betapa luasnya wilayah terdampak. Bagi masyarakat, ini bukan sekadar pemandangan mengerikan di layar ponsel: kualitas udara menurun drastis, aktivitas belajar-mengajar terganggu, dan risiko gangguan pernapasan meningkat. Ibarat seperti luka di permukaan bumi yang terus melebar, kebakaran ini tak hanya melahap vegetasi, tetapi juga mengancam kesehatan jutaan orang yang tinggal di sekitarnya. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akhirnya buka suara dan menyebut situasi ini serius serta membutuhkan respons cepat dari seluruh pihak.

Mengapa Titik Api Begitu Sulit Dipadamkan?

Kebakaran di Kalimantan bukan fenomena baru, tetapi setiap tahun persoalan ini berulang dengan skala yang berbeda-beda. Akar masalahnya terletak pada kombinasi cuaca ekstrem dan karakteristik lahan. Kalimantan memiliki lahan gambut yang sangat luas — diperkirakan jutaan hektare tersebar di Kalimantan Barat, Tengah, Selatan, Timur, dan Utara. Gambut adalah tanah organik yang terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan selama ribuan tahun, sehingga menyimpan karbon dalam jumlah besar. Ketika gambut kering di musim kemarau, ia berubah menjadi bahan bakar alami yang sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan dari permukaan.

Fenomena El Niño turut memperparah keadaan. Pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ini membuat musim kemarau di Indonesia lebih panjang dan lebih kering dari biasanya. Data historis menunjukkan bahwa pada tahun 2015 dan 2019, ketika El Niño kuat, kebakaran hutan Indonesia mencapai ratusan ribu hektare dan asapnya menyebar hingga ke negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Tahun ini, para peneliti iklim memperingatkan pola serupa bisa terulang. Sistem pemantauan titik panas (hotspot) yang dioperasikan satelit mendeteksi lonjakan jumlah titik api di berbagai kabupaten, dan beberapa di antaranya terletak di kawasan konsesi serta lahan masyarakat.

Dampak Ganda: Lingkungan, Kesehatan, dan Ekonomi

Dampak karhutla tidak pernah tunggal. Yang paling dirasakan masyarakat adalah kabut asap yang mengandung partikel halus PM2,5 — partikel berukuran sangat kecil yang mampu menembus paru-paru dan masuk ke aliran darah. Dalam beberapa hari terakhir, indeks standar pencemar udara (ISPU) di sejumlah kota Kalimantan dilaporkan berada pada level tidak sehat hingga berbahaya. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita asma menjadi pihak yang paling terdampak.

"Kebakaran gambut bukan sekadar masalah lingkungan, melainkan darurat kesehatan publik yang berdampak lintas provinsi," demikian penegasan BNPB dalam keterangan resminya.

Dari sisi ekologi, asap dan api menghancurkan habitat satwa endemik seperti orangutan dan bekantan yang hanya hidup di Kalimantan. Ekosistem gambut yang terbakar juga melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar, mempercepat pemanasan global — sebuah ironi, karena gambut seharusnya berperan sebagai penyerap karbon alami. Sementara itu, kerugian ekonomi dihitung dari biaya pemadaman, turunnya produktivitas pekerja, terganggunya transportasi udara karena jarak pandang rendah, hingga gagalnya panen bagi petani.

AspekDampak Utama Karhutla
LingkunganHilangnya habitat satwa, emisi karbon besar, rusaknya lahan gambut
KesehatanGangguan pernapasan, ISPA, penurunan kualitas udara
EkonomiPembatalan penerbangan, penurunan produktivitas, kerugian sektor pertanian

BNPB Buka Suara dan Strategi Penanganan

Menanggapi situasi tersebut, BNPB menegaskan bahwa penanganan tidak bisa dilakukan hanya dengan memadamkan api dari darat. Strategi yang diterapkan kini memadukan teknologi dan mobilisasi sumber daya. Pesawat pengebom air (water bombing) dikerahkan untuk menjangkau titik api yang berada jauh dari akses jalan, sementara modifikasi cuaca melalui penyemaian awan atau teknologi modifikasi cuaca (TMC) digunakan untuk memicu hujan buatan di wilayah yang berpotensi terbakar. Di darat, tim gabungan dari TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, dan masyarakat bahu-membahu melakukan pemadaman serta pembasahan lahan gambut.

BNPB juga menyoroti pentingnya penegakan hukum. Sebagian besar kebakaran dipicu oleh aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan dengan cara membakar yang dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja. Karena itu, langkah preventif berupa patroli terpadu, sosialisasi, dan sanksi tegas bagi pelaku pembakaran menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari operasi pemadaman. Masyarakat diimbau untuk segera melapor jika melihat titik api, sebab deteksi dini adalah kunci agar api tidak sempat membesar.

Peran Teknologi dalam Deteksi Dini

Fakta bahwa kebakaran ini terlihat di Google Maps menunjukkan peran teknologi pemantauan yang semakin penting. Citra satelit memungkinkan siapa pun membandingkan kondisi wilayah dari waktu ke waktu, sementara data titik panas dari satelit NASA dan lembaga pemantau lainnya menjadi acuan utama BNPB dalam menentukan prioritas pemadaman. Teknologi ini juga membuka ruang partisipasi publik: warga bisa memantau kualitas udara secara langsung melalui aplikasi, dan melaporkan kebakaran dengan data lokasi yang akurat. Inovasi semacam ini adalah contoh nyata bagaimana deep tech dapat membantu manusia menghadapi bencana alam yang kompleks.

Namun teknologi hanyalah alat bantu. Penyelesaian akar masalah karhutla membutuhkan pendekatan jangka panjang: restorasi lahan gambut, perbaikan tata kelola lahan, kesejahteraan petani agar tak bergantung pada metode membakar, serta kesadaran kolektif bahwa asap tidak mengenal batas administrasi. Selama lahan masih kering dan praktik pembakaran masih terjadi, selama itu pula Kalimantan akan menghadapi ancaman yang sama setiap tahun. Kini, yang dibutuhkan bukan hanya respons darurat, tetapi komitmen berkelanjutan dari pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk menjaga paru-paru dunia ini tetap hijau.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User