PROBOLINGGO, Terdepan.id — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur. Kobaran api yang semula terdeteksi di area vegetasi lereng bukit dilaporkan bergerak cepat dan menjalar hingga ke kawasan padang savana populer, Bukit Teletubbies.
Keringnya semak belukar akibat musim kemarau panjang yang disertai hembusan angin kencang menjadi faktor utama api sulit dikendalikan. Petugas gabungan kini terus berjibaku di lapangan untuk melokalisasi kobaran api agar tidak semakin meluas ke area pemukiman warga maupun fasilitas wisata utama.
Kronologi Penyebaran Api di Kawasan Savana Bromo
Pergerakan titik api berlangsung sangat dinamis menyusul topografi kawasan yang berbukit dan berjurang terjal. Berdasarkan data pemantauan tim reaksi cepat di lapangan, berikut adalah urutan perkembangan kebakaran:
- Deteksi Titik Awal: Titik api pertama kali teridentifikasi oleh petugas patroli TNBTS di lereng perbukitan sekitar kaldera Bromo pada siang hari, memicu asap putih tebal yang membubung tinggi.
- Perambatan Cepat Menuju Savana: Menjelang sore, embusan angin kencang dari arah lembah mendorong api merambat ke sektor savana kering, hingga akhirnya menjangkau kawasan Bukit Teletubbies.
- Pembentukan Garis Sekat Bakar: Tim pemadam langsung diterjunkan untuk membuat sekat bakar manual guna memutus suplai bahan bakar vegetasi kering di jalur lintasan api.
- Operasi Malam Hari: Proses pemadaman terus dilanjutkan hingga malam hari menggunakan metode penyemprotan air bertekanan dan teknik pemukulan api (gepyok) di titik-titik yang masih terjangkau jalur darat.
Hambatan Pemadaman dan Respons Petugas Gabungan
Operasi pemadaman melibatkan ratusan personel gabungan yang terdiri dari Balai Besar TNBTS, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, relawan Masyarakat Peduli Api (MPA), serta warga lokal setempat. Akses geografis yang curam menjadi tantangan terbesar bagi armada pemadam untuk mendekati bibir api.
"Kondisi angin di kawasan kaldera sangat tidak menentu dan berputar kencang, sehingga kobaran api dapat melompat dengan cepat melintasi sekat buatan. Kami memprioritaskan pemadaman di lereng-lereng dekat jalur akses utama untuk mencegah api memutus jalur evakuasi," ungkap perwakilan tim evakuasi dan penanggulangan karhutla TNBTS di pos pantau.
Selain medan yang terjal, keterbatasan sumber air di puncak perbukitan memaksa petugas menggunakan tangki gendong serta pemadaman tradisional dengan ranting basah untuk memadamkan bara yang tersisa di balik abu vulkanik.
Dampak Terhadap Wisata dan Keanekaragaman Hayati
Peristiwa kebakaran ini memberikan dampak signifikan terhadap ekosistem kawasan konservasi serta aktivitas ekonomi masyarakat sekitar:
- Kerusakan Ekosistem Savana: Puluhan hektare vegetasi khas pegunungan, termasuk semak alang-alang dan pohon cemara gunung (Casuarina junghuhniana), hangus terbakar.
- Pembatasan Akses Wisata: Pengelola TNBTS memberlakukan penutupan sementara dan pengalihan jalur wisata di sekitar Bukit Teletubbies demi keselamatan pengunjung dari bahaya asap pekat.
- Potensi Gangguan Kesehatan: Asap tebal sempat mengarah ke jalur lintas antarkabupaten di sekitar kaldera, meningkatkan risiko gangguan pernapasan bagi warga di desa terdekat.
Hingga saat ini, pihak berwenang masih melakukan penyelidikan mendalam untuk mengetahui penyebab pasti pemicu kebakaran, sembari mengimbau seluruh pihak dan wisatawan untuk tidak menyalakan api atau membuang puntung rokok sembarangan di seluruh area taman nasional.
Comments (0)