Teknologi

Filosof Darío Sztajnszrajber Ungkap Kebahagiaan Tanpa Nyeri

Darío Sztajnszrajber, seorang filsuf dan dosen ternama asal Argentina, mencuri perhatian publik setelah menguraikan gagasan filosofisnya secara mendalam da

Filosof Darío Sztajnszrajber Ungkap Kebahagiaan Tanpa Nyeri

Darío Sztajnszrajber, seorang filsuf dan dosen ternama asal Argentina, mencuri perhatian publik setelah menguraikan gagasan filosofisnya secara mendalam dalam wawancara eksklusif bersama media LA NACION. Dalam percakapan tersebut, ia membedah konsep Epicurus yang kerap dijadikan mantra kehidupan sehari-hari: "Bahagia adalah tidak merasakan nyeri."

Sztajnszrajber menilai bahwa filsufat memiliki nilai terapeutis yang nyata. Baginya, disiplin ilmu ini membantu manusia menjangkau kembali jarak dari tuntutan keseharian, khususnya imperatif produktivitas yang semakin menggila di era modern. Pandangan ini hadir di tengah tekanan sosial yang menuntut setiap individu mengubah seluruh aktivitasnya menjadi sumber keuntungan dan performa.

Filsufat Sebagai Terapi Melawan Kultus Produktivitas

Dalam wawancara tersebut, Sztajnszrajber menjelaskan bahwa budaya modern menuntut setiap langkah manusia untuk dimanfaatkan seoptimal mungkin. Setiap gerak harus menghasilkan keuntungan dan menumpuk menjadi akumulasi yang terukur. Ia mengakui bahwa cara pandang semacam itu adalah salah satu cara menafsirkan kehidupan, dan ia tidak menghakiminya. Namun secara pribadi, pola pikir tersebut tidak pernah mampu memanggil hatinya.

"Ada sesuatu dalam kinerja itu, kinerja sebagai profitabilitas, di mana setiap langkah yang kita ambil harus kita manfaatkan, menghasilkan keuntungan, menghasilkan semacam akumulasi. Bagi saya, itu adalah cara berpikir tentang kehidupan. Saya tidak menilainya, tetapi cara itu tidak memanggil saya. Yang justru memanggil saya dengan kuat adalah yang lainnya," tegas Sztajnszrajber.

Menurut ahli filsufat tersebut, latihan intelektual mengajak manusia untuk mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap lumrah dan mencari perspektif yang lebih peka serta kritis terhadap realitas yang terlihat sudah dapat diprediksi.

"Utilitas, perencanaan, dan tipe manusia tertentu yang lebih terkait dengan dunia produktif — ketika kita memikirkan kebahagiaan atau cinta dalam istilah-istilah tersebut, ada sesuatu yang hilang," imbuhnya.

Merujuk Kembali Gagasan Para Pemikir Besar

Sztajnszrajber juga menghidupkan kembali konsep-konsep dari beragam pemikir sepanjang sejarah untuk mengilustrasikan betapa kebahagiaan sesungguhnya tidak selalu berbanding lurus dengan pencapaian material. Ia menyoroti bahwa masyarakat modern kerap salah kaprah dalam menentukan definisi merasa terwujud atau terpenuhi dalam hidupnya.

Berikut beberapa poin kunci yang ia sampaikan dalam wawancara tersebut:

  • Filsufat bersifat terapeutis karena membantu manusia menjangkau jarak dari tekanan produktivitas sehari-hari.
  • Kebahagiaan tidak selalu tentang akumulasi, melainkan tentang kemampuan menikmati hidup tanpa rasa nyeri batin.
  • Cinta dan kebahagiaan tidak boleh dikurung dalam logika utilitas dan perhitungan keuntungan.
  • Budaya produktivitas bukan satu-satunya cara menafsirkan kehidupan, namun ia menolak menghakimi mereka yang memilih jalan tersebut.

Refleksi Epicurus yang Menjadi Mantra Kehidupan

Gagasan utama yang mengemuka dalam wawancara ini adalah pepatah Epicurus tentang kebahagiaan sebagai ketiadaan nyeri. Sztajnszrajber menafsirkan ulang bahwa kebahagiaan sejati bukanlah tentang menumpuk pencapaian, melainkan tentang mencapai kedamaian batin yang membuat manusia tidak lagi tersiksa oleh kecemasan, tekanan, dan tuntutan tanpa akhir.

Dalam konteks kehidupan sehari-hari, refleksi ini mengajak setiap orang untuk berhenti sejenak dan merefleksikan ulang prioritas hidup mereka. Apakah mereka berlari karena memang menginginkannya, ataukah karena terjebak dalam arus ekspektasi sosial yang menuntut performa tanpa henti?

Sztajnszrajber menutup wawancara dengan penekanan bahwa filsufat bukan sekadar disiplin akademik, melainkan alat yang dapat digunakan siapa pun untuk menemukan kembali makna kehidupan di tengah hiruk-pikuk modernitas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User