Perkembangan dunia kesehatan telah membawa manusia pada pencapaian luar biasa dalam hal usia harapan hidup. Namun, di balik keberhasilan tersebut, muncul persoalan serius yang belum banyak disadari publik: kualitas kesehatan di masa senja justru tertinggal jauh. Hal ini menjadi sorotan utama dalam pernyataan terbaru seorang neurolog terkemuka, Conrado Estol, yang menegaskan bahwa manusia modern perlu segera meninggalkan cara pandang lama tentang usia lanjut.
Menurut Estol, dalam kurun waktu beberapa dekade terakhir, angka harapan hidup manusia telah meningkat drastis, bahkan berlipat ganda dibandingkan generasi sebelumnya. Pencapaian ini, kata dia, merupakan hasil dari kemajuan medis, perbaikan gizi, serta peningkatan kesadaran akan pentingnya kebersihan dan pencegahan penyakit. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa lonjakan usia harapan hidup tidak otomatis diikuti oleh kualitas hidup yang sepadan.
“Di sini, dalam sepuluh tahun terakhir, konsep tentang harapan hidup dan harapan kesehatan mulai berubah,” ujarnya dalam sebuah wawancara eksklusif.
Pernyataan tersebut menjadi pintu masuk bagi diskusi yang lebih luas mengenai apa yang disebutnya sebagai “dekade yang hilang”. Istilah ini merujuk pada kondisi di mana sekitar dua pertiga populasi dunia menghabiskan sepuluh tahun terakhir hidup mereka dalam kondisi kesehatan yang buruk, sering kali membutuhkan bantuan orang lain untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Kondisi ini, menurut Estol, merupakan utang besar peradaban modern yang harus segera dibayar.
Harapan Hidup versus Harapan Kesehatan
Estol menjelaskan bahwa selama ini masyarakat dan sistem kesehatan cenderung berfokus pada upaya memperpanjang usia, tanpa memberi perhatian proporsional pada upaya memperpanjang masa sehat. Akibatnya, banyak orang hidup lebih lama, tetapi dengan beban penyakit kronis, penurunan fungsi kognitif, dan ketergantungan pada perawatan intensif.
Ia menegaskan bahwa untuk mengubah keadaan ini di masa depan, pemahaman tentang biologi manusia perlu diperbarui. Menurutnya, perubahan yang terjadi saat ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah kenyataan ilmiah yang dapat dibuktikan. Salah satu caranya adalah dengan mengukur usia biologis, bukan hanya usia kronologis berdasarkan dokumen identitas.
- Mengukur usia biologis melalui analisis DNA dan penanda genetik
- Membedakan secara tegas antara usia kalender dan kondisi biologis tubuh
- Mendorong pendekatan pencegahan sejak dini, bukan pengobatan saat sakit
- Meninggalkan konsep tradisional tentang usia lanjut yang pasif
Dengan memahami bahwa tubuh manusia terus berubah secara biologis, Estol berharap generasi mendatang dapat menikmati masa tua yang lebih sehat, aktif, dan mandiri. Ia menekankan bahwa upaya ini membutuhkan kerja sama lintas sektor, mulai dari kebijakan publik, layanan kesehatan, hingga kesadaran individu akan pentingnya pola hidup sehat.
Pesan utama dari neurolog tersebut jelas: memperpanjang hidup saja tidak cukup. Yang jauh lebih penting adalah memastikan bahwa setiap tahun tambahan yang diberikan oleh kemajuan medis benar-benar dijalani dengan kualitas hidup yang layak. Dengan kata lain, peradaban modern perlu mulai menghitung tidak hanya berapa lama orang hidup, tetapi juga seberapa baik mereka hidup di sepanjang waktu tersebut.
Comments (0)