Bisnis

Emisi Karbon Karhutla Indonesia Melonjak Hingga 429 Persen

Tingkat emisi karbon akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mencatatkan lonjakan drastis sebesar 429 persen dalam periode pemantauan terb

Emisi Karbon Karhutla Indonesia Melonjak Hingga 429 Persen

Tingkat emisi karbon akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mencatatkan lonjakan drastis sebesar 429 persen dalam periode pemantauan terbaru. Peningkatan signifikan ini dipicu oleh meluasnya titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah rawan, terutama kawasan lahan gambut di Sumatra dan Kalimantan yang sangat rentan terbakar selama musim kemarau.

Lonjakan emisi karbon tersebut menjadi perhatian serius karena berkontribusi besar terhadap pelepasan gas rumah kaca di tingkat global, sekaligus merusak kualitas udara di berbagai daerah. Kota Palembang, Sumatra Selatan, menjadi salah satu lokasi yang mengalami dampak cukup parah dengan munculnya kabut asap pekat yang mengganggu aktivitas masyarakat dan jarak pandang.

Kronologi Kebakaran dan Eskalasi Emisi Karbon

  1. Peningkatan Titik Panas: Memasuki musim kemarau, pemantauan satelit mulai mendeteksi kenaikan jumlah titik panas secara signifikan di kawasan lahan gambut yang mengering di Sumatra dan Kalimantan.
  2. Penyebaran Kabut Asap: Kebakaran yang meluas memicu munculnya kabut asap tebal di wilayah pemukiman, seperti Palembang, yang merintis penurunan kualitas udara hingga kategori tidak sehat.
  3. Lonjakan Emisi Karbon 429 Persen: Hasil analisis pemantauan emisi menunjukkan akumulasi pelepasan karbon melonjak 429 persen dibandingkan periode sebelumnya akibat terbakarnya lapisan gambut dalam.
  4. Pelaksanaan Pemadaman Darurat: Pemerintah menaikkan status siaga dan menerjunkan tim gabungan untuk pemadaman darat serta mengaktifkan operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).

Upaya Pemadaman dan Teknologi Modifikasi Cuaca

Menanggapi krisis lingkungan ini, pemerintah pusat bersama Satuan Tugas (Satgas) Karhutla terus mengintensifkan penanggulangan di lapangan. Langkah pemadaman tidak hanya mengandalkan personel darat yang menembus lokasi-lokasi sulit, tetapi juga didukung operasi pemadaman udara (water bombing) menggunakan helikopter berkapasitas besar.

Selain pemadaman langsung, konsentrasi utama penanganan saat ini berfokus pada penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Penyemaian garam dapur (NaCl) pada awan-awan potensial dilakukan untuk memicu hujan buatan di atas daerah terpapar agar tanah gambut kembali lembap dan titik api padam total.

"Kami terus mengoptimalkan operasi penyemaian awan melalui Teknologi Modifikasi Cuaca dan memperkuat tim Satgas darat. Kebakaran pada lahan gambut membutuhkan penanganan khusus karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah dan memicu pelepasan emisi karbon yang sangat tinggi," ujar perwakilan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Dampak Ekologis dan Risiko Kesehatan Masyarakat

Kebakaran hutan dan lahan yang masif ini membawa dampak berantai yang sangat merugikan. Dari sisi ekologi, terbakarnya tutupan hutan memusnahkan keanekaragaman hayati dan merusak fungsi gambut sebagai penyimpan karbon alami. Lonjakan emisi sebesar 429 persen mempertegas besarnya volume karbon terikat yang terlepas ke atmosfer.

Sementara itu, masyarakat di daerah terdampak menghadapi ancaman nyata di berbagai sektor kehidupan:

  • Kesehatan Masyarakat: Peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat terhirupnya partikel debu halus dan asap pembakaran.
  • Gangguan Transportasi: Penurunan jarak pandang yang berisiko mengganggu navigasi penerbangan serta lalu lintas angkutan sungai dan darat.
  • Kerusakan Ekosistem: Kehilangan habitat alami bagi flora dan fauna endemik akibat terbakarnya kawasan hutan konservasi.
  • Kerugian Ekonomi: Terganggunya mobilitas harian warga serta menurunnya produktivitas ekonomi daerah akibat paparan kabut asap.

Pemerintah mengimbau seluruh pihak dan pelaku usaha kehutanan untuk mematuhi aturan pembukaan lahan tanpa bakar. Penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran hutan juga terus dilakukan guna mencegah eskalasi emisi karbon yang lebih luas di masa mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User