Teknologi

El Nino Geser Kalender Tani, Ketahanan Pangan Terancam

Fenomena iklim global El Nino diprediksi menguat dan mencapai intensitas puncaknya menjelang akhir tahun 2026 hingga Februari 2027. Dampaknya tidak main-ma

El Nino Geser Kalender Tani, Ketahanan Pangan Terancam

Fenomena iklim global El Nino diprediksi menguat dan mencapai intensitas puncaknya menjelang akhir tahun 2026 hingga Februari 2027. Dampaknya tidak main-main: kalender tanam petani di sejumlah daerah terpaksa mundur, dan ancaman terhadap ketahanan pangan nasional semakin nyata. Para petani di Yogyakarta dan sekitarnya mulai merasakan pergeseran musim yang membuat pola tanam tradisional tak lagi bisa dijadikan patokan.

Pengamat pertanian dan iklim menilai bahwa kekeringan yang berkepanjangan akan menurunkan produktivitas lahan. "Kalender tani yang selama puluhan tahun menjadi pedoman petani kini harus direvisi. Mundurnya musim hujan membuat masa tanam bergeser hingga satu bulan lebih," ujar seorang penyuluh pertanian di Bantul. Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan akses irigasi di sejumlah sentra produksi padi.

Dampak El Nino terhadap Sektor Pertanian

El Nino adalah fenomena pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang mengakibatkan berkurangnya curah hujan di Indonesia. Bagi sektor pertanian, kondisi ini menjadi momok karena tanaman pangan sangat bergantung pada ketersediaan air. Berikut perbandingan dampak yang perlu diantisipasi:

AspekKondisi NormalDampak El Nino
Curah hujanTeratur sesuai musimMenurun drastis
Masa tanamOktober–MaretMundur 3–4 minggu
Produktivitas padiStabilTurun 10–25 persen

Data historis menunjukkan bahwa setiap kali El Nino kuat melanda, produksi beras nasional mengalami penurunan signifikan. Pada periode El Nino 2015, misalnya, produksi padi nasional turun hingga 2,7 juta ton dan memaksa pemerintah melakukan impor besar-besaran. Kini, dengan intensitas yang diprediksi setara atau bahkan lebih kuat, kewaspadaan harus ditingkatkan sejak dini.

Strategi Antisipasi Menuju Ketahanan Pangan

Pemerintah dan pemangku kepentingan perlu menyiapkan langkah mitigasi yang terukur. Beberapa strategi yang dinilai krusial antara lain:

  • Percepatan rehabilitasi jaringan irigasi dan pembangunan embung di daerah kering.
  • Penyediaan benih varietas tahan kekeringan dengan umur tanam lebih pendek.
  • Sosialisasi kalender tanam terbaru berbasis informasi iklim BMKG.
  • Penguatan cadangan pangan pemerintah dan daerah.
"Ketahanan pangan bukan hanya soal produksi, tetapi juga kemampuan negara memastikan pangan tersedia dan terjangkau bagi seluruh rakyat. El Nino harus dijadikan momentum memperkuat sistem pertanian kita," tegas seorang akademisi dari Universitas Gadjah Mada.

Selain itu, diversifikasi pangan menjadi kunci mengurangi ketergantungan pada beras. Petani didorong menanam jagung, sorgum, atau umbi-umbian yang lebih toleran terhadap kekeringan. Langkah ini bukan sekadar adaptasi jangka pendek, melainkan investasi jangka panjang bagi kedaulatan pangan Indonesia.

Tanpa antisipasi serius, El Nino berpotensi memicu kenaikan harga pangan, inflasi, dan gejolak sosial. Karena itu, kolaborasi lintas sektor—dari pemerintah, akademisi, hingga petani—menjadi harga mati. Kalender tani boleh mundur, tetapi kesiapan bangsa menghadapi krisis iklim tidak boleh tertunda.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User