Teknologi

Warga India Tolak Data Center Google, Krisis Air Jadi Pemicu

Internet sering digambarkan sebagai sesuatu yang melayang ringan di "awan". Padahal, di balik setiap pencarian, video, dan unggahan foto, ada bangunan raksasa berisi ribuan server yang menyala 24 jam,...

Warga India Tolak Data Center Google, Krisis Air Jadi Pemicu

Internet sering digambarkan sebagai sesuatu yang melayang ringan di "awan". Padahal, di balik setiap pencarian, video, dan unggahan foto, ada bangunan raksasa berisi ribuan server yang menyala 24 jam, menelan listrik dalam jumlah besar, dan—ini yang jarang disadari publik—menyedot air bersih jutaan liter setiap hari. Realitas itulah yang kini memicu gelombang penolakan di India, di mana rencana pembangunan pusat data (data center) milik Google mendapat tentangan keras dari aktivis lingkungan dan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi proyek. Bagi warga, persoalannya bukan sekadar menolak teknologi, melainkan mempertanyakan mengapa sumber daya yang semakin langka harus dikorbankan demi infrastruktur digital milik korporasi raksasa.

Demonstrasi yang melibatkan warga dalam jumlah besar ini mencerminkan kejenuhan publik yang menumpuk. Di satu sisi, pemerintah dan perusahaan teknologi gencar mempromosikan transformasi digital sebagai jalan menuju kemajuan ekonomi. Di sisi lain, warga di banyak wilayah India justru bergulat dengan pasokan air yang tidak menentu, sumur yang menyusut, dan beban lingkungan yang terus bertambah. Ketika kedua kenyataan itu bertabrakan dalam satu proyek pembangunan, kemarahan publik menjadi hampir tak terhindarkan.

Mengapa Pusat Data Memicu Amarah Warga

Pusat data adalah jantung dari layanan digital modern: mesin pencari, penyimpanan cloud (komputasi awan), hingga layanan berbasis AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan) semuanya bergantung pada fasilitas semacam ini. Masalahnya, ribuan server yang bekerja tanpa henti menghasilkan panas luar biasa. Ibarat dapur restoran yang kompornya menyala tanpa jeda sepanjang tahun, ruangan itu harus terus didinginkan agar perangkat tidak rusak. Sistem pendingin inilah yang menjadi konsumen air terbesar.

Sebagai gambaran skala, sebuah pusat data berukuran besar diperkirakan dapat mengonsumsi 1 hingga 5 juta liter air per hari—setara kebutuhan air sebuah kota kecil berpenduduk puluhan ribu jiwa. Kebutuhan listriknya pun tidak kalah besar, sering kali mencapai puluhan hingga ratusan megawatt (MW), satuan daya yang biasa dipakai untuk mengukur konsumsi listrik skala industri. Bagi warga yang sumurnya mengering saat musim kemarau, angka-angka semacam itu terasa seperti tamparan.

Air: Harga Tersembunyi di Balik Layanan Digital

India termasuk negara dengan tingkat tekanan air (water stress) tertinggi di dunia. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa sebagian besar wilayahnya menghadapi eksploitasi air tanah yang jauh melampaui kemampuan alam untuk mengisinya kembali. Di tengah kondisi tersebut, kehadiran fasilitas industri yang haus air dipandang sebagai ancaman langsung terhadap ketahanan pangan, pertanian, dan kehidupan sehari-hari.

Industri teknologi sebenarnya memiliki alat ukur untuk menilai jejak lingkungannya. Ada metrik bernama PUE (Power Usage Effectiveness), yaitu rasio yang menunjukkan seberapa efisien sebuah pusat data menggunakan listrik—semakin mendekati angka 1, semakin efisien. Ada pula WUE (Water Usage Effectiveness), yang mengukur konsumsi air per unit komputasi. Perusahaan-perusahaan besar kerap mengiklankan pencapaian mereka pada dua metrik ini. Namun para pengkritik menilai efisiensi saja tidak cukup: pusat data yang 20 persen lebih hemat air tetap menyedot volume absolut yang sangat besar jika dibangun di wilayah yang sudah kekeringan.

India di Persimpangan Ambisi Digital dan Krisis Lingkungan

Ketegangan ini terjadi di tengah ekspansi besar-besaran industri pusat data di Asia. Lonjakan permintaan layanan digital dan pengembangan machine learning (pembelajaran mesin, cabang AI yang memungkinkan komputer belajar dari data) membuat kebutuhan kapasitas komputasi meroket. India, dengan populasi pengguna internet terbesar di dunia, menjadi ladang investasi yang sangat menarik. Google sendiri sebelumnya telah mengumumkan komitmen investasi miliaran dolar untuk memperluas infrastruktur digitalnya di negara tersebut, termasuk membangun kawasan cloud di sejumlah kota besar.

Namun implementasi di lapangan kerap berbenturan dengan kenyataan ekologis. Fenomena serupa sebenarnya sudah terjadi di berbagai belahan dunia: proyek pusat data pernah diprotes di Uruguay dan Cile karena kekhawatiran air, dibatasi di Belanda karena tekanan lahan dan energi, serta diawasi ketat di Irlandia karena membebani jaringan listrik nasional. Penolakan di India dengan demikian bukan peristiwa terisolasi, melainkan bagian dari perhitungan ulang global mengenai biaya sesungguhnya dari ekonomi digital.

Apa yang Bisa Dilakukan Industri dan Regulator

Para pegiat lingkungan menuntut adanya kajian dampak lingkungan yang transparan sebelum izin pembangunan diberikan, termasuk audit independen terhadap ketersediaan air lokal. Mereka juga mendesak penerapan teknologi pendingin alternatif—seperti pendingin udara, sistem sirkulasi tertutup, atau penggunaan air daur ulang—yang bisa memangkas konsumsi air tawar secara drastis. Beberapa perusahaan teknologi telah bereksperimen dengan membangun pusat data di iklim dingin atau memanfaatkan panas buangan server untuk keperluan lain, meski inovasi semacam itu belum menjadi standar industri.

Bagi pembaca awam, pesan dari peristiwa ini sederhana namun penting: dunia digital tidak pernah benar-benar tanpa jejak fisik. Setiap inovasi yang kita nikmati di layar ponsel berpijak pada tanah, air, dan energi di suatu tempat. Pertanyaan yang diajukan warga India—siapa yang berhak atas sumber daya itu, dan siapa yang menanggung risikonya—adalah pertanyaan yang cepat atau lambat harus dijawab oleh seluruh ekosistem teknologi global, termasuk di Indonesia yang juga tengah menjadi tujuan investasi pusat data.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User