Mengapa ini penting: Perubahan iklim (perubahan jangka panjang terhadap pola cuaca di bumi) tidak lagi hanya menjadi pembahasan para peneliti, namun kini mulai berdampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari masyarakat. Mulai dari kenaikan harga bahan pokok, biaya listrik yang dapat berubah, hingga risiko bencana alam, seluruh aspek kehidupan dapat terpengaruh oleh upaya untuk membangun masa depan yang lebih berkelanjutan. Oleh karena itu, perkembangan teknologi, inovasi, serta pengembangan dalam berbagai sektor menjadi hal yang sangat krusial untuk menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kelestarian lingkungan.
Jembatan Antara Ambisi dan Realita Ekonomi Hijau
Ekonomi hijau (kegiatan ekonomi yang berupaya untuk meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan, namun tetap dapat menciptakan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi) telah menjadi salah satu prioritas utama di kawasan Asia Tenggara. Berdasarkan data terbaru, nilai ekonomi hijau di kawasan ini telah mencapai US$290 miliar (sekitar Rp4.700 triliun) pada tahun 2025 dan diproyeksikan untuk tumbuh hingga US$430 miliar (sekitar Rp6.960 triliun) pada tahun 2030. Angka ini tentu saja sangat menjanjikan, namun realitanya masih jauh dari harapan.
Ibarat seperti seseorang yang telah berlari sangat cepat untuk memulai maraton, namun baru setengah dari energinya yang benar-benar terpakai untuk mencapai garis finish. Hal ini dikarenakan lebih dari 35 persen dari dana yang telah diumumkan untuk pengeluaran modal hijau (green capital expenditure, yaitu uang yang dialokasikan untuk proyek yang bertujuan melindungi lingkungan) tidak pernah berhasil direalisasikan. Kesenjangan ini menjadi hambatan terbesar dalam implementasi berbagai solusi ramah lingkungan, khususnya dalam percepatan transisi energi (perpindahan dari sumber energi yang dapat mencemari lingkungan, menuju sumber energi yang lebih bersih dan terbarukan).
Untuk dapat menutup kesenjangan tersebut, dibutuhkan penelitian yang mendalam, algoritma (serangkaian langkah terperinci yang digunakan untuk memecahkan suatu masalah) yang dapat memprediksi risiko investasi, serta ekosistem (kumpulan pihak yang saling terhubung, seperti pemerintah, perusahaan, dan masyarakat) yang dapat bekerja secara bersamaan. Tanpa adanya koordinasi ini, ambisi besar akan terus berakhir sebagai rencana, bukan sebagai hasil yang dapat dirasakan oleh masyarakat.
Disrupsi Digital yang Mengubah Cara Kita Bertransaksi
Selain sektor lingkungan, teknologi juga terus menciptakan disrupsi (perubahan besar yang menggantikan cara kerja yang sudah ada dengan cara yang jauh lebih efisien) di sektor keuangan. Salah satu bentuk dari inovasi ini dapat dilihat melalui pengembangan platform (sebuah wadah digital yang dapat digunakan untuk menjalankan berbagai layanan) pembayaran dan dompet digital (layanan yang memungkinkan pengguna untuk menyimpan, mengirim, maupun menerima uang secara elektronik).
Investasi yang dilakukan oleh 01Fintech (sebuah perusahaan yang berfokus pada teknologi finansial atau financial technology, yaitu penggabungan antara teknologi dan layanan keuangan) terhadap DANA (sebuah platform dompet digital di Indonesia) merupakan salah satu contoh nyata dari pengembangan ini. Ibarat seperti sebuah jembatan yang menghubungkan bank konvensional dengan masyarakat yang sebelumnya kesulitan untuk mengakses layanan keuangan, dompet digital dapat meningkatkan efisiensi transaksi, mengurangi biaya pengiriman uang, serta memperluas akses keuangan bagi masyarakat di daerah yang minim akan layanan perbankan. Hal ini tidak hanya mempermudah kehidupan sehari-hari, namun juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi secara merata.
Membangun Otak Digital untuk Masa Depan
Salah satu pendorong terbesar dari disrupsi teknologi saat ini adalah kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence/kecerdasan buatan), yaitu kemampuan suatu sistem komputer untuk meniru cara berpikir dan belajar layaknya manusia. Perkembangan AI ini tidak terlepas dari cabang yang disebut machine learning (pembelajaran mesin), di mana sistem dapat belajar dari data tanpa perlu diprogram secara manual, serta deep tech (teknologi mendalam), yaitu inovasi berbasis penelitian ilmiah yang membutuhkan waktu pengembangan yang panjang, namun memiliki potensi dampak yang sangat besar.
Untuk dapat menjalankan algoritma yang kompleks, dibutuhkan perangkat keras yang mumpuni. Unit pemrosesan grafis atau GPU (Graphics Processing Unit/satuan pemrosesan grafis) merupakan komponen penting yang dapat memproses jutaan perhitungan secara bersamaan, sehingga dapat mempercepat pelatihan AI secara signifikan. Dalam upaya untuk memperkuat infrastruktur ini, Zankore (sebuah perusahaan yang bergerak di bidang infrastruktur digital) telah mendapatkan pinjaman sebesar US$3.1 miliar (sekitar Rp50,2 triliun) untuk membangun infrastruktur yang dilengkapi dengan GPU buatan NVIDIA (perusahaan teknologi yang memproduksi unit pemrosesan grafis untuk komputasi). Investasi sebesar ini menunjukkan betapa besar komitmen terhadap pengembangan ekosistem AI di kawasan Asia Tenggara.
Peraturan Baru untuk Ekosistem yang Lebih Adil
Seiring dengan pesatnya pertumbuhan platform digital, pemerintah juga perlu menyesuaikan regulasi (peraturan yang dibuat untuk mengatur suatu hal) agar pertumbuhan ini dapat berjalan secara adil. Salah satu langkah yang tengah direncanakan oleh Indonesia adalah mewajibkan marketplace (pasar daring yang mempertemukan penjual dan pembeli secara digital) untuk memungut Pajak Penghasilan Pasal 22 (pajak yang dipungut oleh pihak tertentu atas transaksi yang dilakukan, yang kemudian disetorkan kepada negara).
Langkah ini bertujuan untuk menciptakan pemerataan kontribusi pajak antara pelaku usaha konvensional dan pelaku usaha digital. Ibarat seperti aturan lalu lintas yang berlaku untuk seluruh pengendara, baik yang menggunakan kendaraan roda dua, maupun roda empat, regulasi ini diharapkan dapat menjaga persaingan yang sehat, sekaligus menambah sumber pendapatan negara yang dapat digunakan untuk membiayai pembangunan, termasuk proyek-proyek ramah lingkungan.
Menuju Sinergi yang Berkelanjutan
Keempat perkembangan di atas, mulai dari kesenjangan ekonomi hijau, investasi digital, pembangunan infrastruktur AI, hingga penyesuaian regulasi pajak, saling berkaitan satu sama lain. Tidak ada satu sektor pun yang dapat berjalan sendiri untuk mencapai tujuan besar ini. Diperlukan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, peneliti, serta masyarakat agar inovasi dapat benar-benar diimplementasikan dan memberikan dampak bagi kehidupan sehari-hari.
Dengan memanfaatkan teknologi secara bijak, meningkatkan efisiensi dalam setiap pengeluaran, serta menutup celah antara rencana dan realisasi, kawasan Asia Tenggara memiliki peluang yang sangat besar untuk tidak hanya menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, namun juga menjadi pusat solusi global terhadap tantangan lingkungan. Upaya ini mungkin memakan waktu, namun dengan data, penelitian, dan kerja sama yang kuat, masa depan yang berkelanjutan bukan lagi sekedar harapan, melainkan sebuah tujuan yang dapat dicapai.
Comments (0)