Ada pergeseran besar dalam cara masyarakat Indonesia memandang media sosial (medsos). Jika dulu platform digital ini dianggap sebagai jendela dunia yang mencerahkan, kini banyak warga justru melihatnya sebagai sumber masalah yang merusak tatanan kehidupan berbangsa. Temuan ini penting karena menyangkut kebiasaan digital lebih dari 200 juta pengguna internet di Indonesia, sebuah pasar raksasa yang selama satu dekade terakhir menjadi medan pertempuran informasi.
Hasil sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa kepercayaan publik terhadap platform media sosial mengalami penurunan tajam. Ibarat seseorang yang kehilangan rasa percaya pada seorang sahabat lama, masyarakat kini lebih berhati-hati, bahkan cenderung menjauh. Persepsi yang berkembang bukan lagi soal hiburan atau koneksi sosial, melainkan soal dampak negatif yang dianggap merusak kohesi sosial dan stabilitas negara.
Apa yang Sebenarnya Terjadi di Balik Pergeseran Ini?
Untuk memahami fenomena ini, kita perlu melihat bagaimana algoritma (algoritma: serangkaian instruksi matematis yang menentukan konten apa yang muncul di beranda pengguna) bekerja. Platform media sosial dirancang untuk memaksimalkan waktu layar (screen time) melalui konten yang memicu emosi. Sayangnya, konten yang paling memicu emosi sering kali adalah hoaks (hoaks: informasi palsu yang disebarkan seolah-olah benar), ujaran kebencian, dan provokasi politik.
Penelitian yang melibatkan ribuan responden dari berbagai lapisan masyarakat ini menemukan bahwa mayoritas merasa media sosial telah menjadi lahan subur bagi disinformasi. Mereka mengaitkan platform seperti Facebook, X (dulu Twitter), TikTok, dan Instagram dengan meningkatnya polarisasi di masyarakat. Polarisasi sendiri berarti terbelahnya masyarakat menjadi kubu-kubu yang saling bermusuhan, sebuah kondisi yang dianggap berbahaya bagi persatuan bangsa.
Menariknya, ketidakpercayaan ini tidak hanya datang dari kalangan dewasa atau mereka yang melek politik. Generasi muda yang tumbuh besar bersama internet juga mulai menunjukkan sikap skeptis. Mereka menyadari bahwa apa yang mereka lihat di layar sering kali tidak mencerminkan kenyataan. Ini adalah bentuk kedewasaan digital yang patut diapresiasi, meski lahir dari kekecewaan.
Dampak Nyata pada Perilaku Digital Sehari-hari
Ketidakpercayaan ini bukan sekadar opini di atas kertas. Ia telah mengubah perilaku nyata. Banyak pengguna kini mengurangi intensitas membuka aplikasi media sosial, membatasi komentar, atau bahkan menghapus akun mereka sama sekali. Fenomena ini dikenal dengan istilah "digital detox" (detoks digital: upaya mengurangi atau menghentikan penggunaan perangkat digital untuk kesehatan mental).
Data menunjukkan bahwa rata-rata waktu yang dihabiskan untuk berselancar di media sosial mulai menurun dalam beberapa tahun terakhir. Sebagai gantinya, warga beralih ke platform yang lebih tertutup seperti aplikasi pesan instan, atau kembali ke media konvensional yang dianggap lebih terverifikasi. Ada semacam kerinduan pada ruang publik yang lebih sehat dan tidak penuh dengan pertempuran narasi.
| Aspek | Era Awal Media Sosial (2010-2015) | Kondisi Terkini (2024-2025) |
|---|---|---|
| Tingkat Kepercayaan | Tinggi, dianggap sumber informasi alternatif | Rendah, dianggap sumber disinformasi |
| Tujuan Utama | Koneksi sosial dan berbagi momen | Konsumsi berita, sering kali dengan rasa curiga |
| Dampak Dirasakan | Positif, memperluas jaringan | Negatif, merusak kesehatan mental dan persatuan |
Respons Platform dan Tantangan ke Depan
Menghadapi sentimen negatif ini, raksasa teknologi dunia mulai melakukan berbagai penyesuaian. Mereka memperketat moderasi konten, melabeli informasi yang meragukan, dan mengurangi jangkauan akun-akun provokatif. Namun, upaya ini sering dianggap terlambat dan setengah hati. Pengguna menilai bahwa platform lebih mementingkan keuntungan iklan daripada kesehatan ekosistem informasinya.
"Masyarakat tidak lagi bisa dibodohi. Mereka mulai memahami bahwa algoritma yang menyajikan konten bukanlah entitas netral, melainkan memiliki kepentingan komersial yang bisa bertentangan dengan kepentingan publik," ujar seorang pengamat teknologi digital.
Ke depan, tantangannya adalah bagaimana membangun ekosistem digital yang lebih sehat. Regulasi pemerintah, literasi digital, dan tanggung jawab platform harus berjalan seiring. Tanpa itu, bukan tidak mungkin media sosial akan semakin ditinggalkan, atau justru bertahan sebagai ruang yang penuh dengan kebisingan dan permusuhan. Pilihan ada di tangan kita semua sebagai pengguna.
Pergeseran ini adalah cermin bahwa teknologi tidak pernah benar-benar netral. Ia adalah cerminan dari nilai-nilai manusia yang mengembangkannya. Ketika nilai-nilai itu dianggap merusak, maka wajar jika masyarakat mencari alternatif. Masa depan media sosial kini bergantung pada apakah ia mampu mereformasi diri, atau akan terus kehilangan kepercayaan publik yang telah susah payah dibangun.
Comments (0)