Teknologi

Solar Orbiter Abadikan Wajah Matahari dari Dekat, Ada 'Lumut' dan 'Hujan'

Bagi kebanyakan orang, Matahari hanyalah bola cahaya yang menyengat di siang hari. Namun di balik penampilannya yang tampak tenang, bintang pusat tata surya kita ini menyimpan aktivitas yang luar bias...

Solar Orbiter Abadikan Wajah Matahari dari Dekat, Ada 'Lumut' dan 'Hujan'

Bagi kebanyakan orang, Matahari hanyalah bola cahaya yang menyengat di siang hari. Namun di balik penampilannya yang tampak tenang, bintang pusat tata surya kita ini menyimpan aktivitas yang luar biasa rumit — dan sebagian di antaranya baru kini bisa diamati dengan jelas. Misi Solar Orbiter, wahana antariksa yang dikelola ESA (European Space Agency/Badan Antariksa Eropa) bekerja sama dengan NASA, baru saja membagikan hasil pengamatan terbarunya: rekaman aktivitas korona — lapisan atmosfer terluar Matahari — yang menampilkan dua fenomena yang terdengar seperti istilah cuaca di Bumi, yaitu “lumut” dan “hujan”.

Mengapa hal ini penting? Karena aktivitas Matahari tidak hanya menjadi bahan kajian akademis. Letusan partikel bermuatan dari bintang ini bisa mengganggu satelit komunikasi, sistem navigasi GPS, hingga jaringan listrik di Bumi. Memahami perilaku korona berarti memahami cara memprediksi “serangan” cuaca antariksa yang bisa berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari kita. Ibarat seperti mempelajari peta cuaca sebelum berangkat bepergian: semakin akurat datanya, semakin siap kita menghadapi badai.

Apa Itu Korona dan Mengapa Sulit Dipelajari?

Korona adalah lapisan atmosfer Matahari yang membentang jutaan kilometer ke luar angkasa. Di sinilah terjadi salah satu misteri terbesar dalam astrofisika: suhu korona justru jauh lebih panas daripada permukaan Matahari. Jika permukaan Matahari “hanya” bersuhu sekitar 5.500 derajat Celsius, korona bisa mencapai lebih dari satu juta derajat Celsius. Ibarat seperti berdiri di depan perapian yang nyala apinya justru lebih panas daripada kayu yang terbakar — secara logika biasa, itu tidak masuk akal, tetapi memang itulah yang terjadi.

Kesulitan utama mengamati korona adalah cahaya Matahari yang menyilaukan. Layaknya mencoba melihat lilin di tengah sorotan lampu stadion, korona yang redup tenggelam oleh cahaya piringan Matahari. Karena itu, pengamatan dari Bumi hanya bisa dilakukan saat gerhana total. Di sinilah keunggulan Solar Orbiter: wahana ini terbang sangat dekat ke Matahari dan dilengkapi instrumen canggih seperti EUI (Extreme Ultraviolet Imager), kamera yang menangkap cahaya ultraviolet ekstrem untuk mengungkap detail atmosfer matahari.

Fenomena “Lumut” dan “Hujan” di Atmosfer Matahari

Hasil pengamatan Solar Orbiter memperlihatkan struktur yang oleh para peneliti disebut “lumut korona” (coronal moss). Jangan bayangkan tumbuhan hijau: istilah ini merujuk pada pola halus seperti spons yang muncul di dasar korona, menyerupai tekstur berlubang-lubang. Para ilmuwan meyakini “lumut” ini terbentuk di area transisi antara permukaan Matahari dan korona, tempat energi magnetik terus-menerus dipindahkan dan dipanaskan.

Sementara itu, “hujan korona” (coronal rain) adalah fenomena yang jauh lebih spektakuler. Plasma — gas superpanas bermuatan listrik yang membentuk materi Matahari — yang tadinya melayang di korona tiba-tiba mendingin, mengembun, lalu jatuh kembali ke permukaan Matahari seperti hujan deras. Ibarat seperti uap air yang naik, berubah menjadi awan, lalu turun sebagai hujan di atmosfer Bumi. Namun di Matahari, proses ini terjadi dengan skala yang sulit dibayangkan: gumpalan plasma yang jatuh bisa sebesar negara, dengan suhu masih mencapai puluhan ribu derajat.

“Pengamatan semacam ini membantu kita memahami siklus energi yang menggerakkan atmosfer Matahari,” demikian penjelasan para peneliti dalam tim misi Solar Orbiter, menekankan bahwa detail-detail kecil seperti “lumut” dan “hujan” adalah kunci untuk mengungkap mekanisme pemanasan korona yang selama ini menjadi teka-teki.

Teknologi di Balik Misi dan Apa Artinya bagi Kita

Solar Orbiter diluncurkan pada Februari 2020 dan dirancang untuk terbang mendekati Matahari hingga sekitar 42 juta kilometer — lebih dekat daripada planet Merkurius. Jarak sedekat itu memungkinkan instrumennya menangkap resolusi gambar yang belum pernah dicapai sebelumnya. Wahana ini juga akan mempelajari kutub Matahari, wilayah yang belum pernah diamati langsung oleh misi mana pun sebelumnya.

Hasil pengamatan semacam ini bukan sekadar koleksi gambar cantik. Data tentang aktivitas korona membantu para ilmuwan membangun model prediksi cuaca antariksa yang lebih akurat. Di era ketika umat manusia semakin bergantung pada satelit untuk komunikasi, internet, dan navigasi, kemampuan memprediksi badai matahari menjadi kebutuhan nyata, bukan lagi sekadar riset akademis.

AspekDetail
MisiSolar Orbiter (ESA & NASA)
PeluncuranFebruari 2020
Jarak terdekat ke Matahari±42 juta kilometer
Fenomena yang diamati“Lumut” dan “hujan” korona

Ke depannya, data dari Solar Orbiter akan dipadukan dengan pengamatan teleskop lain di Bumi untuk menghasilkan gambaran utuh tentang cuaca antariksa. Penelitian ini adalah contoh nyata bagaimana deep tech dan pengembangan teknologi antariksa bekerja untuk kepentingan yang sangat praktis: melindungi infrastruktur modern kita dari amukan bintang yang kita tinggali ini. Dengan setiap pengamatan baru, Matahari — tetangga terdekat kita di alam semesta — perlahan menyerahkan rahasianya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User