Teknologi

Meta Digugat Massal: Diduga Racuni Anak Lewat Fitur Kecanduan

Setiap malam, jutaan orang tua di berbagai belahan dunia berdebat dengan anaknya soal satu hal: kapan berhenti bermain ponsel. Fenomena ini bukan sekadar keluhan rumah tangga. Kini persoalan itu naik ...

Meta Digugat Massal: Diduga Racuni Anak Lewat Fitur Kecanduan

Setiap malam, jutaan orang tua di berbagai belahan dunia berdebat dengan anaknya soal satu hal: kapan berhenti bermain ponsel. Fenomena ini bukan sekadar keluhan rumah tangga. Kini persoalan itu naik ke meja pengadilan dan menyeret salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia, Meta—induk perusahaan dari platform Facebook dan Instagram—sebagai terdakwa. Gugatan yang diajukan puluhan jaksa agung negara bagian di Amerika Serikat menuduh platform tersebut sengaja merancang fitur yang membuat anak-anak kecanduan, dan fakta-fakta di balik tuduhan itu mulai terungkap di ruang sidang.

Ibarat mesin slot di kasino yang dirancang agar pemain terus menekan tombol, media sosial disebut memakai mekanisme psikologis serupa. Notifikasi yang muncul tiba-tiba, umpan berita (feed) yang tak pernah habis, dan tombol "like" yang datang acak—semua itu dirancang untuk memicu dopamin, zat kimia di otak yang terkait dengan rasa senang, sehingga pengguna sulit berhenti. Bagi anak-anak yang otaknya masih berkembang, daya tarik semacam ini disebut jauh lebih kuat.

Gugatan 33 Negara Bagian: Apa yang Dituduhkan?

Pada Oktober 2023, sebanyak 33 jaksa agung negara bagian AS, dari kubu Republik maupun Demokrat, secara bersama-sama menggugat Meta di pengadilan federal. Jumlah pendukung gugatan ini kemudian bertambah hingga lebih dari 40 negara bagian. Mereka menuduh perusahaan itu melanggar undang-undang perlindungan konsumen dan aturan privasi anak, termasuk COPPA (Children's Online Privacy Protection Act), atau undang-undang perlindungan privasi anak di internet.

Tuduhan intinya bukan sekadar bahwa anak-anak "terlalu lama" bermain media sosial. Jaksa agung menilai Meta tahu persis dampak buruk produknya, tetapi tetap mengembangkan fitur seperti scroll tanpa henti dan algoritma rekomendasi yang agresif demi menahan perhatian pengguna muda. Algoritma, secara sederhana, adalah serangkaian instruksi matematis yang menentukan konten apa yang muncul di layar pengguna. Meta juga dituduh menyesatkan publik, termasuk orang tua, soal tingkat keamanan platformnya.

Riset Internal: Bukti yang Tak Pernah Dipublikasikan

Bagian paling menarik dari kasus ini adalah dokumen internal yang bocor ke publik lewat pemberitaan media Amerika, Wall Street Journal, pada 2021. Dokumen itu menunjukkan bahwa para peneliti internal Meta sendiri menemukan sekitar 32 persen remaja perempuan merasa Instagram membuat mereka semakin tidak percaya diri dengan tubuhnya. Temuan serupa juga menyebut sebagian remaja mengaitkan Instagram dengan meningkatnya rasa cemas dan depresi.

Padahal, dokumen itu sengaja tidak dipublikasikan perusahaan. Publik baru mengetahuinya setelah bocor, dan dokumen itulah yang kemudian menjadi senjata utama jaksa agung di pengadilan. Para penggugat menilai perusahaan tidak bisa lagi berpura-pura tidak tahu, dan perilaku semacam ini disebut sebagai pelanggaran serius terhadap kepercayaan publik.

Pembelaan Meta: Permintaan Maaf di Depan Senat

Meta membantah tuduhan tersebut. Perusahaan menilai gugatan itu keliru menggambarkan kerja mereka dan mengabaikan berbagai upaya perlindungan yang sudah dilakukan. Meta mengklaim telah menginvestasikan miliaran dolar untuk keamanan, meluncurkan kontrol orang tua, hingga fitur deteksi usia. Pada September 2024, Instagram meluncurkan Teen Accounts, akun khusus remaja yang otomatis bersifat privat, membatasi pesan, dan membatasi waktu pemakaian bagi pengguna di bawah 16 tahun.

Namun, momen yang paling tak terlupakan terjadi pada Januari 2024. Saat dihadirkan dalam sidang dengar pendapat Senat AS, Mark Zuckerberg, CEO Meta, berdiri dan meminta maaf kepada para orang tua korban yang hadir di ruangan.

"Saya minta maaf atas semua yang telah kalian alami," ujar Zuckerberg, sebuah pengakuan yang oleh banyak pengamat disebut langkah besar, meski tak menghentikan proses hukum.

Bukan Hanya Meta: Awal Regulasi Media Sosial?

Kasus ini tidak berdiri sendiri. Platform lain seperti TikTok, Snapchat, dan YouTube juga menghadapi gugatan serupa dari pemerintah negara bagian dan distrik sekolah. Di AS, Surgeon General (kepala dinas kesehatan publik) bahkan menyerukan agar media sosial diberi label peringatan seperti bungkus rokok. Data survei Gallup pada 2023 menunjukkan remaja Amerika rata-rata menghabiskan 4,8 jam per hari di media sosial—waktu yang lebih lama daripada tidur sebagian dari mereka.

Perbandingan tuduhan terhadap sejumlah platform:

PlatformInduk PerusahaanInti Tuduhan
Instagram & FacebookMetaFitur kecanduan dan dampak pada kesehatan mental remaja
TikTokByteDanceAlgoritma rekomendasi yang membuat pengguna muda sulit berhenti
SnapchatSnap Inc.Fitur streak yang memicu tekanan sosial pada anak
YouTubeAlphabet/GoogleKonten yang berpotensi membahayakan anak

Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat penting. Remaja Indonesia termasuk pengguna media sosial paling aktif di dunia, dan orang tua di sini menghadapi dilema yang sama. Regulasi saja tidak cukup; dibutuhkan literasi digital di rumah, kontrol dari platform, dan transparansi hasil penelitian internal tentang dampak produk terhadap anak. Apa yang terjadi di pengadilan AS kini bisa menjadi preseden yang mendisrupsi cara seluruh ekosistem media sosial memandang tanggung jawabnya terhadap generasi muda—bukan lagi soal pilihan fitur, melainkan soal etika dalam merancang teknologi itu sendiri.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User