Teknologi

Maurizio Lazzarato Kritik Kapitalisme Modern dan Pemerintahan Javier Milei

Filosof sekaligus sosiolog terkemuka asal Italia, Maurizio Lazzarato, kembali memicu debat publik internasional melalui karya terbarunya yang berjudul La g

Maurizio Lazzarato Kritik Kapitalisme Modern dan Pemerintahan Javier Milei

Filosof sekaligus sosiolog terkemuka asal Italia, Maurizio Lazzarato, kembali memicu debat publik internasional melalui karya terbarunya yang berjudul La gran violencia (Kekerasan Besar). Dalam karya ini, Lazzarato secara tajam membongkar keterkaitan erat antara institusi negara, akumulasi modal atau kapital, dan eskalasi perang dalam era kapitalisme kontemporer. Penulis yang dikenal luas lewat analisisnya tentang fenomena ekonomi politik tersebut menegaskan bahwa kekerasan sistematis bukan sekadar efek samping dari ekonomi pasar, melainkan fondasi utama yang menopang keberlangsungan sistem kapitalisme global saat ini.

Menurut analisis Lazzarato, lanskap politik dunia saat ini sedang berada dalam titik kritis akibat kegagalan teori-teori kritis pasca-1968 dalam merespons dinamika kekuasaan skala besar. Ia menilai bahwa penekanan berlebihan pada gerakan mikropolitik dan isu-isu parsial telah mengabaikan perimbangan kekuasaan makro serta agenda perubahan revolusioner yang mendesak untuk merestrukturisasi tatanan global.

Keterikatan Strategis Antara Negara, Kapitalisme, dan Perang

Dalam karya terbarunya, Lazzarato berargumen bahwa konflik bersenjata dan militerisasi global tidak dapat dipisahkan dari dinamika pasar bebas modern. Kapitalisme modern secara konsisten memerlukan kekuatan militer negara untuk mengamankan jalur pasokan energi, mengontrol sumber daya strategis, dan menundukkan perlawanan sosial. "Perang bukanlah kegagalan dari diplomasi kapitalisme, melainkan instrumen produksi dan mekanisme stabilisasi ekonomi yang paling ekstrem," ujar Lazzarato dalam uraian teoritisnya.

Fenomena ini terlihat nyata dari lonjakan anggaran pertahanan global di tengah krisis kesejahteraan masyarakat secara umum. Negara-negara maju maupun berkembang terus mengalirkan belanja publik ke industri militer demi memelihara dominasi ekonomi pasar dari ancaman krisis struktural.

Kritik Pemikiran Kritis Pasca-1968 dan Disrupsi Makropolitik

Lazzarato melontarkan kritik pedas terhadap kalangan intelektual kiri dan pengusung teori kritis pasca-1968. Ia menilai bahwa generasi pemikir pasca-1968 bertanggung jawab atas pengikisnya wacana revolusioner karena mengalihkan fokus utama dari benturan kelas yang mendasar menjadi sekadar reformasi kultural yang fragmentaris.

Untuk memahami perbedaan mendasar dalam peta pemikiran politik ini, berikut tabel perbandingan antara pendekatan teori kritis pasca-1968 dan kerangka analisis makropolitik yang diusung oleh Lazzarato:

Dimensi Analisis Pemikiran Kritis Pasca-1968 Kerangka Makropolitik Lazzarato
Fokus Utama Mikropolitik, identitas, dan isu-isu lokal Makropolitik, struktur negara, dan revolusi sistemik
Pandangan tentang Perang Gangguan temporer terhadap tatanan hukum Fondasi internal akumulasi kapitalisme global
Strategi Perubahan Reformasi institusional dan resistensi kultural Pengorganisasian kembali kekuasaan dan konfrontasi kelas

Pemerintahan Javier Milei dan Manifestasi "Fasisme Baru"

Salah satu poin paling krusial dalam analisis Lazzarato adalah penelusurannya terhadap konstelasi politik di Amerika Latin, khususnya di Argentina di bawah kepemimpinan Presiden Javier Milei. Lazzarato mengategorikan rezim Milei bukan sekadar sebagai libertarian ekstrem, melainkan sebagai bentuk baru dari "fasisme kontemporer" yang beroperasi melalui mekanisme pasar ultra-liberal.

Berbeda dengan fasisme tradisional abad ke-20 yang mengagungkan otoritarianisme negara secara total, fasisme ala Milei menggabungkan deregulasi ekonomi ekstrem dengan pembongkaran hak-hak sosial pekerja secara paksa melalui instrumen hukum negara. Lazzarato menolak klaim Milei sebagai sosok "anarko-kapitalis" murni dan justru menilai kebijakannya sebagai bentuk kekerasan terorganisir demi melayani kepentingaan kapital finansial internasional.

"Kombinasi antara pemiskinan masif, penindasan terhadap serikat buruh, dan pencabutan subsidi publik secara ekstrem adalah eksperimen fasisme pasar yang sangat berbahaya bagi tatanan demokrasi global," tegas Lazzarato.

Melalui pendekatan ini, Lazzarato mengingatkan dunia internasional bahwa ancaman totalitarianisme masa kini tidak lagi selalu diwujudkan melalui seragam militer tradisional, melainkan hadir lewat kebijakan ekonomi kejam yang dilegitimasi oleh sistem pemilu demokratis.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS grace-winata

Reporter Basket. Meliput IBL, NBA, dan basket Asia.

Comments (0)

User