Kabar mengkhawatirkan datang dari kawasan perairan Selat Sunda. Sebanyak lima orang jurnalis dan dua awak kapal dilaporkan hilang kontak saat sedang menempuh perjalanan laut untuk meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Insiden hilangnya komunikasi ini terjadi di tengah peningkatan aktivitas vulkanik serta kondisi cuaca laut yang dinamis di perairan penghubung Pulau Jawa dan Sumatra tersebut.
Rombongan peliput yang terdiri dari awak media nasional dan lokal tersebut diketahui menyewa perahu motor dari pesisir Banten menuju area aman di sekitar gugusan Kepulauan Krakatau. Namun, beberapa jam setelah keberangkatan, pihak redaksi maupun keluarga kehilangan sinyal dan komunikasi radio dengan kapal tersebut.
Kronologi Hilangnya Kontak di Perairan Selat Sunda
Berdasarkan keterangan awal, rombongan bertolak pada dini hari guna mendokumentasikan letusan berkala yang memuntahkan material pijar dan abu vulkanik. Kontak terakhir tercatat ketika kapal berada sekitar beberapa mil laut dari zona waspada. Sejak saat itu, seluruh saluran komunikasi satelit mini maupun telepon seluler tidak dapat dihubungi kembali.
"Kami kehilangan kontak sejak pukul 04.30 WIB. Informasi terakhir menyebutkan jarak pandang mulai terbatas akibat kombinasi kabut laut tebal dan sebaran abu vulkanik halus," ungkap salah satu koordinator liputan media yang memantau pergerakan tim.
Situasi di sekitar kawah aktif saat ini memang tengah bergejolak. Otoritas kebencanaan dan vulkanologi sebelumnya telah menetapkan batas jarak aman bagi seluruh aktivitas pelayaran nelayan maupun wisatawan di sekitar pulau gunung api tersebut.
Operasi SAR Gabungan Diterjunkan
Menanggapi laporan darurat ini, Tim SAR Gabungan yang terdiri dari unsur Basarnas, Polairud, TNI AL, dan relawan maritim segera mengoordinasikan operasi pencarian dan pertolongan. Armada kapal penyelamat dikerahkan menyisir rute lintasan yang biasa dilalui perahu motor dari dermaga keberangkatan menuju perairan Krakatau.
Fokus utama penyisiran meliputi beberapa titik koordinat penting, antara lain:
- Jalur lintas pelayaran tradisional dari pesisir Carita dan Anyer menuju gugusan Pulau Krakatau.
- Area bayangan pulau di sekitar Pulau Sebesi dan Pulau Rakata yang sering dijadikan lokasi berlindung kapal nelayan.
- Garis batas radius aman erupsi guna memastikan perahu tidak terseret arus atau mengalami kerusakan mesin di zona berbahaya.
Pihak berwenang menggarisbawahi bahwa operasi penyelamatan menghadapi tantangan berat akibat gelombang laut yang cukup tinggi dan risiko lontaran material vulkanik. Kendati demikian, pencarian intensif terus dimaksimalkan dengan tetap memprioritaskan keselamatan personel penyelamat.
"Kami mengerahkan armada Rigid Inflatable Boat (RIB) serta kapal patroli berukuran besar untuk memperluas jangkauan pencarian. Prioritas utama kami adalah menemukan seluruh jurnalis dan awak kapal dalam kondisi selamat," tegas perwakilan tim pencarian setempat.
Hingga saat ini, pihak keluarga korban dan asosiasi jurnalis terus menanti kabar perkembangan terbaru di posko darurat pelabuhan, sembari berharap seluruh awak kapal dan jurnalis segera dievakuasi dalam keadaan sehat.
Comments (0)