Ketika dunia membicarakan Israel, narasi yang sering muncul adalah tentang negara yang menjadi rumah bagi orang Yahudi dari seluruh penjuru dunia. Namun, di balik narasi persatuan itu, tersimpan kisah panjang tentang perpecahan internal yang tak kalah rumit dibanding konflik dengan pihak luar. Ibarat sebuah keluarga besar yang dipaksa tinggal serumah, perbedaan latar belakang, ideologi, dan cara pandang justru melahirkan gesekan yang mengakar.
Mengapa ini penting? Karena memahami dinamika internal Israel membantu kita melihat bahwa inovasi dan teknologi yang kita kagumi dari negara itu tidak lahir di ruang hampa. Ia tumbuh di tengah ekosistem sosial yang penuh ketegangan, negosiasi, dan kompromi. Apa yang terjadi di dalam negeri Israel hari ini adalah cermin bagaimana sebuah bangsa mengelola keragaman—sesuatu yang relevan bagi banyak negara, termasuk Indonesia.
Akarnya: Siapa yang Pantas Disebut Yahudi?
Sejak awal berdirinya pada 1948, Israel menghadapi pertanyaan mendasar: siapa yang dianggap Yahudi? Jawaban atas pertanyaan ini tidak tunggal. Ada kelompok religius yang berpegang pada hukum agama secara ketat, ada kaum sekuler yang melihat ke-Yahudi-an sebagai identitas budaya, dan ada pula komunitas dari berbagai diaspora yang membawa tradisi berbeda.
Ketegangan ini ibarat seperti sebuah platform besar yang mencoba menyatukan pengguna dengan latar belakang berbeda-beda. Tanpa aturan main yang disepakati, gesekan tak terhindarkan. Dalam sejarah Israel, gesekan itu bahkan pernah berujung pada tindakan represif terhadap warganya sendiri—sebuah ironi bagi negara yang dibangun dari pengalaman pengungsian.
Misalnya, kaum Yahudi religius dari Eropa Timur, Yahudi Mizrahi dari Timur Tengah, Yahudi Ethiopia, hingga Yahudi sekuler dari Amerika, semuanya membawa identitas masing-masing. Negara yang seharusnya menjadi payung bersama justru sering kali gagal menjadi rumah yang inklusif.
Ketika Sentimen Agama Bertemu Kebijakan Negara
Persoalan semakin rumit ketika sentimen keagamaan masuk ke ranah kebijakan publik. Di Israel, otoritas religius memiliki pengaruh besar atas urusan perkawinan, perceraian, konversi, bahkan status kewarganegaraan. Akibatnya, warga yang tidak diakui oleh otoritas tertentu bisa terjerat masalah administratif yang pelik.
"Negara ini didirikan untuk menjadi tempat aman bagi orang Yahudi, tetapi dalam praktiknya, banyak yang justru merasa asing di tanahnya sendiri," begitu kira-kira gambaran yang sering dilontarkan para pengamat sosial di Israel.
Kebijakan semacam ini menciptakan disrupsi sosial. Warga yang seharusnya menjadi bagian dari bangsa justru merasa dikesampingkan. Dalam konteks pengembangan sebuah negara, ketegangan identitas seperti ini bisa menjadi bumerang: ia menghambat kohesi sosial yang dibutuhkan untuk membangun bangsa yang kuat.
Pelajarannya bagi Dunia Teknologi dan Kebijakan
Israel dikenal sebagai pusat deep tech dan machine learning. Banyak perusahaan rintisan global lahir dari sana. Namun, cerita sukses itu tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial yang melingkupinya. Ketegangan antar-kelompok justru mendorong sebagian orang untuk mencari jalan keluar melalui algoritma, platform digital, dan inovasi sosial.
Ada pelajaran penting di sini: keragaman bisa menjadi sumber efisiensi jika dikelola dengan baik, tetapi bisa pula menjadi sumber konflik jika dibiarkan tanpa kerangka yang jelas. Negara-negara lain, termasuk Indonesia yang kaya akan keberagaman, bisa belajar dari pengalaman Israel.
Data menunjukkan bahwa Israel memiliki lebih dari 9 juta penduduk dengan komposisi etnis dan religius yang sangat beragam. Sekitar 74 persen di antaranya adalah Yahudi, sementara sisanya adalah Arab, Druze, dan kelompok lain. Di antara kelompok Yahudi sendiri, perpecahan antara sekuler dan religius terus menjadi isu panas dalam setiap pemilu.
Pada akhirnya, kisah perpecahan Yahudi di Israel adalah cermin tentang bagaimana sebuah bangsa berjuang mendefinisikan dirinya. Ia mengingatkan kita bahwa teknologi dan inovasi tidak pernah berdiri sendiri—selalu ada manusia dengan segala perbedaannya di baliknya. Dan di situlah tantangan terbesarnya.
Comments (0)