Bagi warga Kalimantan, musim kemarau selalu membawa kekhawatiran tersendiri. Udara pagi yang biasanya segar bisa berubah pekat dan berbau sangit, sekolah diliburkan, dan sejumlah penerbangan ditunda karena jarak pandang menurun drastis. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memang bukan peristiwa baru, tetapi frekuensi serta intensitasnya membuat para peneliti menilai Kalimantan sebagai salah satu wilayah paling rawan api di Asia Tenggara. Mengapa pulau ini begitu sering dilalap api? Jawabannya terletak pada kombinasi antara kondisi alam yang unik dan aktivitas manusia yang belum sepenuhnya terkendali.
Akar Masalah: Gambut, Kemarau, dan Pembukaan Lahan
Kalimantan menyimpan salah satu kawasan gambut terluas di dunia. Ibarat spons raksasa yang menyerap air saat hujan, lahan gambut sebenarnya tahan api selama tetap basah. Namun ketika kemarau panjang melanda, terutama saat fenomena El Nino (pemanasan suhu permukaan laut Pasifik yang mengubah pola cuaca global) berlangsung, kandungan air di gambut menguap dan lapisan tanahnya mengering. Pada titik itulah gambut berubah menjadi bahan bakar raksasa yang sulit dipadamkan.
Faktor manusia memperparah keadaan. Pembukaan lahan dengan cara membakar masih menjadi pilihan sebagian pekebun karena dinilai murah dan cepat, meskipun metode tersebut dilarang. Data titik panas (hotspot) yang dipantau satelit setiap musim kemarau menunjukkan lonjakan signifikan di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Peneliti menegaskan bahwa kebakaran skala besar hampir selalu terjadi ketika musim kemarau bertemu dengan aktivitas pembukaan lahan secara bersamaan.
"Kebakaran hebat di Kalimantan bukan murni bencana alam. Ini hasil interaksi antara gambut yang kering, kemarau ekstrem, dan praktik membakar lahan. Mengatasi salah satu faktor saja tidak akan cukup," ujar peneliti ekologi tropis yang memantau karhutla di kawasan tersebut.
Api "Zombie" di Bawah Permukaan
Yang membuat kebakaran Kalimantan sulit ditaklukkan adalah api yang membara di bawah permukaan gambut. Di permukaan, api tampak padam; tetapi di lapisan tanah dalam, bara tetap menyala selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Ketika kondisi kering datang lagi, bara itu bisa menyulut kebakaran baru. Para peneliti menyebutnya ground fire atau api tanah, yang kerap dijuluki "zombie fire" karena seolah hidup kembali dari kematian.
Berbeda dengan kebakaran hutan biasa yang bisa dijinakkan lewat pemadaman dari udara, api gambut membutuhkan air dalam jumlah besar untuk membasahi ulang lapisan tanah. Karena itu, para ilmuwan mendorong pendekatan jangka panjang seperti pembasahan kembali lahan gambut (rewetting) dan pembangunan sekat-sekat kanal untuk menahan air, sebuah strategi yang diuji dalam proyek restorasi gambut di Kalimantan Tengah.
Dampak Nyata: Kesehatan, Ekonomi, dan Ekosistem
Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 (partikel berukuran kurang dari 2,5 mikrometer) yang mampu menembus paru-paru dan masuk ke aliran darah. Dampaknya terasa langsung: melonjaknya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), terutama pada anak-anak dan lansia. Pada puncak kebakaran besar, kualitas udara di sejumlah kota sempat masuk kategori berbahaya, dan warga diimbau tetap berada di dalam rumah.
Dari sisi ekonomi, kerugiannya tidak kecil. Kebakaran besar yang melanda Indonesia pada 2015, yang pusatnya berada di Sumatera dan Kalimantan, diperkirakan memicu kerugian hingga puluhan miliar dolar AS, termasuk biaya kesehatan, terganggunya transportasi, dan hilangnya produktivitas. Dari sisi ekologi, kebakaran menghancurkan habitat satwa endemik seperti orangutan dan mengurangi kemampuan hutan menyerap karbon, yang pada akhirnya mempercepat perubahan iklim.
Fakta singkat: mayoritas kebakaran di Kalimantan terjadi pada periode Agustus hingga Oktober saat puncak kemarau; luas gambut Indonesia sekitar 13,4 juta hektare, sebagian besar tersebar di Kalimantan dan Sumatera, dan menjadi penyumbang utama emisi karbon saat terbakar.
Harapan dari Riset dan Restorasi
Kabar baiknya, teknologi dan penelitian terus berkembang. Pemantauan hotspot berbasis satelit kini memungkinkan deteksi dini sehingga petugas bisa bergerak sebelum api membesar. Penelitian machine learning (cabang kecerdasan buatan/AI yang membuat komputer belajar dari data) juga mulai digunakan untuk memprediksi wilayah rawan kebakaran berdasarkan pola cuaca dan kelembapan gambut. Inovasi semacam ini, jika digabungkan dengan restorasi gambut dan penegakan hukum yang konsisten, memberikan harapan bahwa siklus kabut asap tahunan perlahan bisa diputus.
Pada akhirnya, kebakaran Kalimantan adalah pengingat bahwa bencana ini bukan sekadar masalah lingkungan di pulau terpencil. Kabut asap lintas batas pernah menyelimuti negara tetangga, dan emisi karbon dari gambut ikut memanaskan bumi. Maka upaya pencegahan kebakaran bukan hanya demi warga Kalimantan, melainkan untuk seluruh kawasan dan generasi mendatang.
Comments (0)