JEMBER, Terdepan.id — Kebakaran hutan dan lahan melanda kawasan konservasi Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) di wilayah Kabupaten Jember, Jawa Timur. Berdasarkan pembaruan data terkini dari otoritas gabungan penanggulangan bencana, kobaran api telah menghanguskan sedikitnya 72 hektare area vegetasi hutan lindung.
Kondisi cuaca kering yang disertai embusan angin kencang mempercepat perambatan api ke berbagai blok hutan. Petugas gabungan yang terdiri dari Polisi Kehutanan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), relawan, dan masyarakat peduli api harus bekerja ekstra keras untuk menahan pergerakan api agar tidak mendekati habitat satwa endemik.
Kronologi dan Dinamika Penanganan Api
Peristiwa kebakaran terpantau meluas sejak beberapa hari terakhir seiring meningkatnya suhu udara di kawasan pesisir selatan Jawa Timur. Berikut adalah urutan kejadian di lapangan:
- Deteksi Titik Panas Awal: Citra satelit dan pantauan patroli lapangan mendeteksi kepulan asap pertama di area perbukitan terjal yang langsung direspons dengan penugasan tim verifikasi cepat.
- Penyebaran Api Cepat: Embusan angin kencang membawa bara api melompati batas-batas alami jurang sehingga luasan area terdampak melonjak signifikan hingga menyentuh angka 72 hektare.
- Mobilisasi Tim Gabungan: Puluhan personel gabungan dikerahkan masuk ke zona rimba untuk memotong jalur rambatan api menggunakan metode sekat bakar darurat.
- Operasi Pendinginan Intensif: Petugas terus melakukan pemantauan bara api tersembunyi (ground fire) untuk memastikan tidak terjadi penyalaan ulang pada serasah kering di lantai hutan.
"Kendala terberat kami adalah akses jalan yang curam dan tidak dapat dilalui oleh kendaraan bermotor atau mobil tangki suplai air. Pemadaman murni mengandalkan tenaga fisik dan peralatan manual," ujar salah satu perwakilan tim lapangan Balai TNMB.
Tantangan Medan dan Upaya Pemadaman Manual
Kondisi topografi kawasan Meru Betiri yang berbukit-bukit dan terjal menjadi hambatan utama dalam proses pemadaman karhutla kali ini. Kendaraan taktis pemadam kebakaran tidak mampu menjangkau titik-titik pusat api yang berada di punggung bukit.
Alhasil, petugas mengandalkan sejumlah teknik konvensional untuk menghentikan laju api, di antaranya:
- Penggunaan gepyok atau ranting basah untuk memukul kobaran api permukaan.
- Pengoperasian tangki semprot punggung (jet shooter) secara bergantian dengan suplai air terbatas.
- Pembuatan iloran atau sekat bakar selebar beberapa meter guna memutus kesinambungan bahan bakar vegetasi kering.
Dampak Terhadap Ekosistem dan Upaya Mitigasi Lanjutan
Taman Nasional Meru Betiri dikenal sebagai benteng pertahanan ekosistem hutan tropis dataran rendah yang menjadi habitat bagi beragam flora dan fauna dilindungi. Kebakaran seluas 72 hektare ini dikhawatirkan dapat mengganggu ketersediaan pakan dan ruang jelajah satwa liar setempat.
Hingga saat ini, petugas masih disiagakan di pos-pos pantau perbatasan hutan guna mengantisipasi kemunculan titik panas baru. Pihak berwenang juga mengimbau warga di sekitar batas kawasan konservasi untuk tidak melakukan aktivitas pembersihan lahan dengan cara membakar selama musim kemarau berlangsung.
Comments (0)