Pemandangan langit Jakarta yang terpotong oleh jalinan kabel udara yang semrawut kini dihitung harinya. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung menegaskan komitmennya untuk membenahi wajah estetika kota melalui pemindahan saluran utilitas ke bawah tanah. Langkah ambisius ini diambil demi mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang aman, nyaman, dan berestetika tinggi tanpa ancaman bahaya kabel meliuk di atas kepala warga.
Pemandangan kabel yang saling tumpang tindih bagaikan sarang laba-laba di berbagai sudut ibu kota telah lama menjadi keluhan publik. Selain merusak pemandangan, kabel utilitas yang tak teratur sering kali menjadi pemicu utama kecelakaan lalu lintas, kebakaran akibat korsleting listrik, hingga insiden fatal yang memakan korban jiwa pengendara sepeda motor. Karena itu, penataan utilitas bukan lagi sekadar pembenahan visual, melainkan sebuah kebutuhan mendesak untuk keselamatan jiwa.
Investasi Rp90 Miliar demi Jaringan Utilitas Terpadu
Sebagai bentuk langkah nyata, Pemprov DKI Jakarta menggenjot proyek Sarana Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT). Pada tahap yang tengah berjalan, investasi senilai Rp90 miliar dikucurkan untuk membangun jaringan pipa kabel bawah tanah sepanjang 16,9 kilometer. Proyek pipa terpadu ini dirancang untuk menampung seluruh saluran serat optik dan kabel daya dari berbagai operator telekomunikasi serta penyedia jasa utilitas lainnya.
Dalam pernyataannya, Gubernur DKI Jakarta menegaskan bahwa pembenahan ini akan dilakukan secara bertahap namun masif. Pemprov DKI menargetkan bahwa dalam jangka waktu lima tahun ke depan, tidak ada lagi kabel udara yang membentang liar di sepanjang jalan protokol maupun kawasan pemukiman di Jakarta.
"Target kami sangat jelas: dalam lima tahun ke depan, Jakarta harus benar-benar bersih dan bebas dari kabel udara yang semrawut. Seluruh utilitas harus masuk ke bawah tanah demi keamanan dan keindahan kota," tegas Gubernur Pramono Anung saat meninjau kesiapan infrastruktur kota.
Tantangan Teknis dan Sinergi Lintas Sektor
Proyek pemindahan kabel menuju bawah tanah bukan tanpa kendala. Tantangan terbesar terletak pada koordinasi antarstakeholder, termasuk belasan asosiasi penyedia jasa telekomunikasi, PT PLN (Persero), serta pengelola saluran air tanah. Penggalian jalan yang berpotensi memicu kemacetan lalu lintas juga menjadi perhatian utama yang harus dikelola secara cermat oleh dinas terkait.
Untuk memahami skala dan target keberlanjutan dari proyek penataan utilitas ini, berikut adalah ringkasan fakta kunci pembangunan SJUT di DKI Jakarta:
| Indikator Utama | Rincian Proyek SJUT |
|---|---|
| Nilai Investasi Tahap Ini | Rp90 Miliar |
| Panjang Target Jaringan | 16,9 Kilometer |
| Target Waktu Bebas Kabel | 5 Tahun (2025–2030) |
| Fokus Utama | Keselamatan Publik & Estetika Kota Global |
Pengamat tata kota menilai bahwa keberhasilan proyek ini sangat bergantung pada penegakan hukum dan konsistensi regulasi. Pemprov DKI perlu memberikan sanksi tegas kepada operator yang enggan menurunkan kabel udara mereka setelah jaringan SJUT siap digunakan. Tanpa adanya tindakan disiplin, sisa-sisa kabel usang akan tetap membebani tiang-tiang di pinggir jalan.
Mewujudkan Standar Kota Global yang Aman
Pembangunan SJUT sepanjang 16,9 km ini diharapkan menjadi cikal bakal dari percepatan penataan ruang udara di seluruh wilayah Jakarta. Ketika kabel-kabel utilitas telah tertanam rapi di dalam ducting system bawah tanah, trotoar jalan dapat difungsikan secara maksimal untuk pejalan kaki tanpa terhalang tiang utilitas yang miring atau kabel yang terkulai rendah.
Transformasi ini mempertegas langkah Jakarta dalam menyejajarkan diri dengan kota-kota metropolitan dunia yang telah lama melarang keberadaan kabel udara di pusat kota. Ke depan, langkah ini diyakini tidak hanya mempercantik lanskap urban, tetapi juga meningkatkan keandalan jaringan telekomunikasi dan listrik dari ancaman cuaca ekstrem seperti angin kencang dan pohon tumbang.
Dengan komitmen investasi yang kuat dan target waktu yang terukur, masyarakat Jakarta kini menanti terwujudnya ruang publik yang lebih bersih, ramah, dan bebas dari bahaya kabel semrawut dalam kurun waktu lima tahun mendatang.
Pemprov DKI kucurkan Rp90 miliar untuk proyek Sarana Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT) sepanjang 16,9 km. Gubernur Pramono Anung menargetkan pemindahan seluruh kabel udara ke bawah tanah demi keamanan dan keindahan kota. Baca selengkapnya di Terdepan.id!
Comments (0)