Bisnis

Jakarta — IHSG Dibuka Dua Arah, Prapembukaan Menguat Tipis

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Rabu (14/10/2020) dengan pergerakan dua arah sebelum akhirnya menguat tipis pada prapembuk

Jakarta — IHSG Dibuka Dua Arah, Prapembukaan Menguat Tipis

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Rabu (14/10/2020) dengan pergerakan dua arah sebelum akhirnya menguat tipis pada prapembukaan. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada prapembukaan IHSG naik 2,09 poin atau 0,04 persen ke level 5.134,66. Pergerakan itu terekam pada layar digital di Gedung BEI, Jakarta, yang menjadi barometer aktivitas pasar modal nasional sejak sesi pembukaan dibuka.

Gerak indeks yang nyaris stagnan pada awal sesi ini mencerminkan sikap menunggu (wait and see) para pelaku pasar di tengah derasnya arus sentimen global yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, harapan pemulihan ekonomi global pascapandemi masih menyisakan optimisme. Di sisi lain, kekhawatiran atas lonjakan kasus Covid-19 di sejumlah negara serta ketidakpastian kebijakan stimulus ekonomi masih membebani psikologi investor. Kondisi inilah yang membuat IHSG bergerak dua arah, sesaat menguat dan sesaat melemah, sebelum akhirnya ditutup menguat tipis di prapembukaan.

Analisis: Sentimen Dua Arah Menahan Laju Indeks

Kenaikan tipis IHSG pada prapembukaan tidak lepas dari kombinasi sentimen eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, pasar masih mencermati negosiasi stimulus fiskal Amerika Serikat yang kala itu belum mencapai kata sepakat antara Kongres dan pemerintahan. Kabar negatif dari sisi geopolitik dan dinamika hubungan dagang negara-negara besar juga masih menjadi ganjalan bagi pergerakan indeks global, termasuk kawasan Asia. Sementara dari sisi internal, pelaku pasar menanti rilis sejumlah data ekonomi domestik, salah satunya data neraca perdagangan yang menjadi indikator utama kesehatan ekspor-impor Indonesia di tengah pandemi.

Posisi IHSG di level 5.134-an sejatinya masih berada dalam rentang konsolidasi yang berlangsung selama beberapa pekan terakhir. “Level 5.100–5.200 masih menjadi zona support-resistance utama. Selama indeks mampu bertahan di atas 5.100, kecenderungannya masih sideways dengan bias positif,” ujar seorang analis pasar modal di Jakarta. Pandangan senada disampaikan sejumlah pengamat yang menilai tanpa adanya katalis baru, IHSG akan sulit meninggalkan rentang konsolidasinya dalam jangka pendek.

Analisis: Pelaku Pasar Menanti Katalis Baru

Data perdagangan pada awal sesi menunjukkan nilai transaksi masih relatif terbatas, mengindikasikan minimnya partisipasi investor. Kondisi ini lazim terjadi ketika pasar berada dalam fase menunggu katalis. Beberapa katalis yang dinantikan antara lain laporan keuangan kuartal III-2020 dari emiten perbankan dan sektor konsumer, serta arah kebijakan lanjutan bank-bank sentral global terkait suku bunga. Momentum rilis laporan keuangan biasanya menjadi pemicu pergerakan sektoral yang dapat menggerakkan indeks secara keseluruhan.

Dari sisi aliran dana, investor asing pada pekan-pekan sebelumnya masih mencatatkan posisi jual bersih di pasar reguler, meski volumenya cenderung menyusut. “Arus keluar dana asing mulai melambat. Ini sinyal bahwa tekanan jual asing mendekati titik jenuh, sehingga ruang penguatan IHSG terbuka jika ada sentimen positif yang datang,” kata analis lainnya. Normalisasi aliran dana asing ini menjadi salah satu indikator yang paling dicermati pelaku pasar untuk mengukur keberlanjutan penguatan indeks ke depan.

Perbandingan Posisi IHSG pada Prapembukaan

IndikatorLevelPerubahan
IHSG prapembukaan (14/10/2020)5.134,66+2,09 poin (+0,04%)
Zona support terdekat5.100Garis pertahanan utama
Zona resistensi terdekat5.200Pemicu penguatan lanjutan

Berdasarkan tabel di atas, posisi IHSG pada prapembukaan masih berada di tengah-tengah zona support dan resistensi. Level 5.100 menjadi garis pertahanan yang wajib dijaga agar indeks tidak jatuh ke zona koreksi lebih dalam, sementara tembusnya level 5.200 akan menjadi pemicu penguatan menuju level psikologis berikutnya. Rentang pergerakan yang sempit ini menegaskan bahwa pasar masih belum menemukan arah yang jelas.

Proyeksi Pergerakan ke Depan

Untuk sisa pekan tersebut, pergerakan IHSG diperkirakan masih akan dipengaruhi sentimen eksternal, terutama perkembangan stimulus AS dan data ekonomi global. Di dalam negeri, investor akan mencermati rilis data ekspor-impor serta arus transaksi di pasar obligasi yang kerap menjadi indikator awal minat investor asing terhadap aset berdenominasi rupiah. Kedua faktor ini dinilai mampu menjadi penentu arah indeks dalam beberapa sesi ke depan.

Secara fundamental, valuasi IHSG yang masih tergolong murah dibandingkan rata-rata historisnya dinilai menarik bagi investor jangka menengah-panjang. Namun demikian, volatilitas yang tinggi akibat ketidakpastian pandemi menuntut investor untuk tetap selektif dan disiplin dalam mengelola risiko. Para analis mengingatkan agar investor tidak terjebak pada pergerakan harian yang fluktuatif, melainkan fokus pada kualitas fundamental emiten.

Seiring berjalannya sesi perdagangan, arah IHSG pada penutupan Rabu nanti akan menjadi penentu apakah indeks mampu melanjutkan penguatannya atau kembali tertekan. Yang jelas, pergerakan tipis pada prapembukaan menunjukkan pasar masih menunggu arah yang lebih jelas sebelum mengambil posisi besar. Sampai katalis baru hadir, konsolidasi dalam rentang sempit berpotensi terus berlanjut. (Foto: Liputan6.com/Angga Yuniar)

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User