Bisnis

JAKARTA — Dokter Imbau Masyarakat Hindari Kopi dan Minuman Manis saat Kemarau

Fenomena cuaca panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia selama musim kemarau memicu berbagai risiko gangguan kesehatan, salah satunya dehid

JAKARTA — Dokter Imbau Masyarakat Hindari Kopi dan Minuman Manis saat Kemarau

Fenomena cuaca panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia selama musim kemarau memicu berbagai risiko gangguan kesehatan, salah satunya dehidrasi berat. Di tengah tingginya suhu udara harian, masyarakat kerap memilih minuman dingin yang manis atau berkadar kafein tinggi seperti es kopi susu, teh manis berkaleng, hingga minuman berenergi untuk menyegarkan tenggorokan. Namun, para ahli medis secara tegas memperingatkan bahwa kebiasaan tersebut justru berpotensi membahayakan kondisi fisik dan memperparah dehidrasi.

Para praktisi kesehatan menekankan bahwa konsumsi minuman manis dan tinggi kafein saat suhu udara sedang terik justru mempercepat proses kehilangan cairan dari dalam tubuh. Alih-alih menghidrasi organ secara optimal, kandungan zat kimiawi di dalam jenis minuman tersebut memiliki efek fisiologis yang berlawanan dengan kebutuhan mendasar tubuh manusia yang sedang terpapar sengatan udara panas.

Lonjakan Suhu Musim Kemarau Memicu Risiko Dehidrasi

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat adanya kenaikan suhu udara yang cukup signifikan di berbagai kota besar Indonesia. Suhu harian yang mencapai 35 hingga 38 derajat Celsius menyebabkan angka kejadian keluhan kesehatan akibat sengatan panas meningkat tajam. Kondisi ekstrem ini membuat tingkat penguapan cairan tubuh melalui keringat meningkat drastis dibandingkan kondisi normal.

Menurut penjelasan dari tim dokter spesialis penyakit dalam, masyarakat sering kali keliru dalam memahami konsep pemenuhan hidrasi harian. Banyak yang menganggap semua jenis cairan dingin dapat menggantikan cairan tubuh yang hilang dengan efektif tanpa memperhitungkan komposisi di dalamnya.

Kronologi Dampak Kafein dan Gula Terhadap Tubuh

Mekanisme terjadinya dehidrasi yang dipicu oleh konsumsi gula berlebih dan kafein saat cuaca terik dapat terjadi melalui tahapan fisiologis berikut:

  1. Fase Penyerapan Awal: Saat minuman manis berkalori tinggi dikonsumsi, kadar glukosa dalam aliran darah akan melonjak drastis dalam waktu singkat, menciptakan kondisi hipertonik pada pembuluh darah.
  2. Proses Diuresis akibat Kafein: Kandungan kafein yang masuk ke dalam sistem pencernaan merangsang organ ginjal untuk memproduksi urine lebih cepat dan banyak, sehingga frekuensi buang air kecil meningkat tajam secara tidak alami.
  3. Penarikan Cairan Seluler (Osmosis): Akibat tingginya konsentrasi gula darah, tubuh melakukan mekanisme osmosis secara alami dengan menarik air dari dalam sel-sel organ tubuh untuk melarutkan kadar gula berlebih di aliran darah.
  4. Terjadinya Dehidrasi Sekunder: Kombinasi hilangnya cairan akibat efek diuretik kafein dan proses osmosis gula menyebabkan tubuh kekurangan cairan pada tingkat seluler yang parah, memicu rasa haus berkepanjangan, pusing, hingga kelelahan ekstrem.
"Ketika udara panas, tubuh berusaha keras mendinginkan diri melalui mekanisme keringat. Jika kita mengonsumsi minuman tinggi gula dan kafein, tubuh harus bekerja ekstra keras memetabolisme zat tersebut. Proses metabolisme ini membutuhkan pasokan air yang sangat banyak, sehingga risiko dehidrasi justru naik hingga dua kali lipat," ujar perwakilan tim medis.

Panduan Langkah Pemenuhan Cairan yang Tepat

Untuk mencegah bahaya komplikasi kesehatan akibat fenomena cuaca panas, para praktisi medis memberikan urutan rekomendasi dalam menjaga kecukupan cairan tubuh harian:

  • Mengonsumsi Air Putih Secara Berkala: Targetkan mengonsumsi air putih minimal 2,5 hingga 3 liter per hari, atau sekitar 8 hingga 10 gelas, secara konsisten tanpa perlu menunggu timbulnya rasa haus.
  • Mengimbangi dengan Elektrolit Alami: Manfaatkan air kelapa murni atau buah-buahan kaya air seperti semangka dan jeruk untuk menggantikan cadangan mineral sodium serta kalium yang terbuang bersama keringat.
  • Membatasi Asupan Kafein dan Gula: Batasi konsumsi kopi maksimal satu cangkir di pagi hari dan hindari minuman kemasan berkarbonasi serta es teh manis secara berlebihan selama siang hari.
  • Memantau Indikator Warna Urine: Perhatikan warna urine secara mandiri. Warna jernih atau kuning muda menandakan kecukupan cairan, sedangkan warna kuning pekat hingga kecokelatan menandakan tubuh telah mengalami dehidrasi tingkat lanjut.

Dengan menerapkan pola konsumsi cairan yang benar dan membatasi jenis minuman pemicu dehidrasi, masyarakat diharapkan dapat menjalani aktivitas harian di tengah puncak musim kemarau dengan kondisi fisik yang tetap prima dan terhindar dari risiko sengatan panas (*heatstroke*).

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS olivia-hartono

Reporter Sepak Bola. Fokus pada Liga 1, Timnas, dan sepak bola Asia Tenggara.

Comments (0)

User