Teknologi

JAKARTA — DBS Foundation Ungkap Risiko Populasi Menua dan Kesiapan Pensiun

Laju pertumbuhan demografi Indonesia sedang berada di persimpangan jalan yang sangat krusial. Di tengah ambisi besar meraih predikat negara maju pada perte

JAKARTA — DBS Foundation Ungkap Risiko Populasi Menua dan Kesiapan Pensiun

Laju pertumbuhan demografi Indonesia sedang berada di persimpangan jalan yang sangat krusial. Di tengah ambisi besar meraih predikat negara maju pada pertengahan abad ini, sebuah bayangan krisis sosial dan ekonomi mulai melintas. Laporan riset terbaru yang dirilis oleh DBS Foundation berjudul "Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita?" membeberkan realitas mengkhawatirkan mengenai ketidaksiapan masyarakat dalam menyongsong masa pensiun, di tengah melesatnya jumlah penduduk usia lanjut.

Pergeseran demografi ini ditandai dengan tren penurunan angka fertilitas total (Total Fertility Rate) yang signifikan serta melonjaknya harapan hidup masyarakat. Kondisi tersebut menempatkan Indonesia pada jalur cepat menuju struktur masyarakat menua (aging population), sebuah tantangan struktural yang berpotensi membebani APBN dan sistem jaminan sosial nasional jika tidak diantisipasi secara matang sejak dini.

Dinamika Pergeseran Demografi Menuju 2045

Berdasarkan temuan utama dalam studi tersebut, Indonesia diproyeksikan akan mengalami penurunan tingkat fertilitas secara konsisten hingga menyentuh angka 1,97 pada tahun 2045. Angka ini berada di bawah tingkat pergantian generasi (replacement rate) standar sebesar 2,1. Pada saat yang sama, proporsi populasi lansia di Tanah Air diperkirakan akan melonjak drastis hingga mendekati 20 persen dari total penduduk pada periode yang sama.

Perubahan komposisi penduduk ini memicu pergeseran piramida demografi yang signifikan, sebagaimana terlihat pada tabel proyeksi berikut:

Indikator Demografi Kondisi Historis / Saat Ini Proyeksi Tahun 2045
Tingkat Fertilitas Total (TFR) 2,18 (Tahun 2020) 1,97
Proporsi Populasi Lansia (>60 Tahun) Sekitar 10,7% (Tahun 2023) 20,0%
Beban Ketergantungan Lansia Meningkat Moderat Meningkat Tajam

Paradoks Inklusi Keuangan dan Kesiapan Pensiun

Temuan paling mencolok dari penelitian ini adalah munculnya paradoks di tengah masyarakat Indonesia. Di satu sisi, program pemerintah dan inovasi teknologi finansial telah berhasil mendongkrak tingkat akses keuangan (inklusi keuangan) hingga ke pelosok daerah. Namun di sisi lain, kesiapan finansial untuk menghadapi masa pensiun justru masih berada pada tingkatan yang sangat rendah.

Masyarakat usia produktif saat ini cenderung memanfaatkan instrumen keuangan hanya untuk kebutuhan transaksi jangka pendek atau konsumsi harian, bukan untuk akumulasi kekayaan jangka panjang atau tabungan hari tua. Fenomena "generasi roti lapis" (sandwich generation) juga memperburuk keadaan, di mana angkatan kerja harus menanggung biaya hidup anak sekaligus orang tua mereka yang tidak memiliki tabungan pensiun memadai.

"Akses terhadap perbankan dan dompet digital yang tinggi tidak serta-merta menjamin ketahanan finansial masa tua. Tanpa perencanaan pensiun yang matang dan berkesinambungan, Indonesia berisiko menghadapi krisis kesejahteraan lansia sebelum resmi menjadi negara berpenghasilan tinggi," tulis tim peneliti DBS Foundation dalam laporan tersebut.

Strategi Mitigasi dan Penguatan Literasi Finansial

Menghadapi tantangan ganda berupa penurunan tingkat kelahiran dan lonjakan populasi lansia, DBS Foundation merekomendasikan sejumlah langkah strategis yang harus segera diambil oleh regulator, pelaku industri keuangan, dan masyarakat umum. Beberapa poin krusial yang direkomendasikan antara lain:

  • Penguatan Literasi Perencanaan Hari Tua: Mengubah pemahaman masyarakat dari sekadar inklusi keuangan menuju literasi keuangan mendalam mengenai pentingnya investasi jangka panjang.
  • Inovasi Produk Pensiun Inklusif: Membuka akses instrumen pensiun yang terjangkau bagi pekerja sektor informal yang saat ini mendominasi lebih dari 55 persen angkatan kerja Indonesia.
  • Reformasi Kebijakan Perlindungan Sosial: Mendorong skema kolaborasi publik-swasta untuk memperkuat dana pensiun nasional dan layanan kesehatan berkelanjutan bagi lansia.

Tanpa intervensi kebijakan yang terstruktur dan kesadaran kolektif dari masyarakat, peningkatan populasi lansia ini bisa mengikis dividen demografi yang selama ini digadang-gadang menjadi mesin penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User