Teknologi

Digitalisasi Ekonomi RI Terhambat Bukan karena Krisis Inovasi

Bayangkan sebuah pasar rakyat yang ramai di pagi hari. Pedagang sudah punya barang dagangan berkualitas, pembeli juga tidak kurang. Tapi begitu transaksi harus berpindah ke layar ponsel, semuanya mend...

Digitalisasi Ekonomi RI Terhambat Bukan karena Krisis Inovasi

Bayangkan sebuah pasar rakyat yang ramai di pagi hari. Pedagang sudah punya barang dagangan berkualitas, pembeli juga tidak kurang. Tapi begitu transaksi harus berpindah ke layar ponsel, semuanya mendadak rumit: koneksi lambat, aplikasi tidak nyambung antarbank, dan data pelanggan tercecer. Itulah gambaran yang cukup tepat untuk menggambarkan kondisi digitalisasi ekonomi Indonesia saat ini. Persoalannya bukan pada minimnya ide atau inovasi, melainkan pada pekerjaan rumah besar yang belum tuntas: menyambungkan seluruh ekosistem digital agar benar-benar bisa dipakai oleh semua lapisan masyarakat.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya baru-baru ini menyoroti hal senada. Menurutnya, kekuatan teknologi harus diintegrasikan secara serius ke dalam roda perekonomian. Pernyataan itu bukan sekadar retorika. Data menunjukkan bahwa sektor ekonomi kreatif menyumbang sekitar Rp1.400 triliun atau setara 7,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Artinya, jika digitalisasi berjalan mulus, nilai tambah yang bisa dikerek dari sektor ini jauh lebih besar lagi.

Bukan Soal Ide, Tapi Soal Sambungan

Indonesia sebenarnya tidak kekurangan talenta digital. Laporan dari berbagai lembaga menunjukkan jumlah startup (perusahaan rintisan berbasis teknologi) Tanah Air termasuk yang paling banyak di Asia Tenggara. Ada platform e-commerce (perdagangan elektronik), layanan dompet digital, hingga aplikasi transportasi yang lahir dari anak bangsa. Ibarat kata, bibit unggulnya sudah ada. Yang kurang adalah irigasi yang mengalirkan air ke seluruh sawah, bukan sekadar ke satu petak saja.

Masalahnya ada pada interoperabilitas, yakni kemampuan sistem yang berbeda untuk saling terhubung dan bertukar data. Selama ini, banyak layanan digital berjalan sendiri-sendiri. Sistem pembayaran di satu platform belum tentu bisa langsung terhubung dengan sistem di platform lain. Akibatnya, pelaku usaha kecil—yang justru menjadi tulang punggung ekonomi—kerap terjebak pada proses manual yang tidak efisien.

Ditambah lagi, kesenjangan infrastruktur antara kota besar dan daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) masih lebar. Tanpa koneksi internet yang memadai, teknologi secanggih apa pun tidak akan terpakai. Inilah yang membuat digitalisasi terasa seperti proyek setengah jalan.

Data dan Spesifikasi yang Perlu Diperhatikan

Untuk memberi gambaran lebih konkret, berikut beberapa angka kunci yang menggambarkan lanskap digitalisasi ekonomi Indonesia:

Kontribusi ekonomi kreatif: sekitar Rp1.400 triliun atau 7,8 persen PDB.

Jumlah UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah): lebih dari 64 juta unit, dengan kontribusi sekitar 61 persen terhadap PDB.

UMKM yang sudah onboarding digital: baru sekitar 22 juta unit, artinya masih ada puluhan juta yang belum tersentuh ekosistem digital.

Pengguna internet: lebih dari 215 juta jiwa, namun belum semuanya memanfaatkannya untuk aktivitas produktif.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa percepatan digitalisasi bukan pilihan, melainkan keharusan. Setiap persen kenaikan adopsi digital di kalangan UMKM berpotensi menambah lapangan kerja dan pendapatan daerah.

Langkah Nyata dan Peran Ekosistem

Teuku Riefky menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendirian. Dibutuhkan kolaborasi antara kementerian, pelaku industri, penyedia teknologi, dan komunitas kreatif. Dalam beberapa kesempatan, ia menyebut pentingnya pendekatan yang menyeluruh, mulai dari pelatihan sumber daya manusia (SDM), penyediaan infrastruktur, hingga regulasi yang ramah inovasi.

“Teknologi itu alat, bukan tujuan. Yang paling penting adalah bagaimana ia bisa mempercepat kesejahteraan masyarakat,” ujar Teuku Riefky dalam sebuah forum ekonomi kreatif.

Pernyataan itu sejalan dengan konsep deep tech (teknologi mendalam) yang mulai banyak dilirik. Berbeda dengan aplikasi yang hanya mengubah antarmuka, deep tech menyentuh riset dan pengembangan di level algoritma, kecerdasan buatan (AI/Artificial Intelligence), hingga komputasi awan. Teknologi semacam ini bisa membantu memprediksi permintaan pasar, mengoptimalkan rantai pasok, dan memberi rekomendasi produk yang lebih personal.

Namun, implementasi deep tech butuh ekosistem yang matang. Mulai dari ketersediaan data yang bersih, talenta yang terlatih, sampai perlindungan privasi yang jelas. Tanpa itu, inovasi hanya akan berhenti di tahap prototipe.

Menghapus Jarak antara Inovasi dan Pasar

Persoalan utama digitalisasi ekonomi Indonesia sesungguhnya adalah jarak antara laboratorium dan lapangan. Banyak penelitian dan pengembangan teknologi sudah dilakukan, tetapi belum menemukan jalur distribusi yang tepat ke pasar. Di sisi lain, pelaku usaha kecil butuh solusi yang murah, mudah, dan langsung bisa dipakai.

Ibarat seperti jembatan yang hanya dibangun separuh, kedua sisi sudah siap tetapi belum tersambung. Diperlukan peran pemerintah sebagai penghubung, misalnya melalui program pendampingan, insentif adopsi teknologi, dan penyederhanaan perizinan. Platform digital juga perlu didorong untuk membuka akses lebih luas, bukan menciptakan tembok baru.

Ke depan, keberhasilan digitalisasi tidak diukur dari banyaknya aplikasi yang lahir, melainkan dari seberapa banyak pelaku usaha yang benar-benar merasakan manfaatnya. Jika ekosistem sudah tersambung rapi, maka teknologi bukan lagi barang mewah, melainkan alat kerja sehari-hari. Inilah pekerjaan rumah yang harus dituntaskan bersama, agar potensi ekonomi kreatif Indonesia tidak hanya menjadi angka di atas kertas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS suwandi-tan

Editor Olahraga. Mantan jurnalis olahraga cetak. Meliput Piala Dunia 3 edisi.

Comments (0)

User