Teknologi

Di Kedalaman 18 Meter, Jakarta Siap Punya Ruang Publik Bawah Tanah

Jakarta dikenal sebagai kota yang tumbuh vertikal. Menara pencakar langit menjulang di sepanjang koridor Sudirman-Thamrin, sementara ruang di permukaan makin sempit oleh arus kendaraan. Kini ibu kota ...

Di Kedalaman 18 Meter, Jakarta Siap Punya Ruang Publik Bawah Tanah

Jakarta dikenal sebagai kota yang tumbuh vertikal. Menara pencakar langit menjulang di sepanjang koridor Sudirman-Thamrin, sementara ruang di permukaan makin sempit oleh arus kendaraan. Kini ibu kota disiapkan berkembang ke arah sebaliknya: ke bawah. Pemerintah bersama operator MRT (Mass Rapid Transport atau angkutan cepat massal) Jakarta menggarap proyek bernama Extended Concourse, sebuah ruang multifungsi bawah tanah yang dibangun pada kedalaman mencapai 18 meter. Ibarat gedung yang punya basement, kali ini bagian bawah tanah tidak dialokasikan untuk parkir, melainkan dirancang menjadi jantung aktivitas baru kota.

Mengapa ini penting? Karena ruang ini bukan sekadar proyek citra. Bagi jutaan pekerja dan pelajar yang setiap hari berpindah antarstasiun, Extended Concourse berpotensi menjadi jalur pejalan kaki yang teduh dari terik matahari, aman dari genangan, sekaligus ruang komersial yang menghidupkan ekonomi lokal. Konsep serupa telah terbukti berhasil di sejumlah kota besar Asia.

Lokasi dan Skala Proyek

Ruang bawah tanah ini direncanakan berdiri di sepanjang koridor pembangunan MRT Fase 2, yakni lintasan yang membentang dari Bundaran HI menuju Kota Tua melalui kawasan Monas. Segmen pertama atau Fase 2A memiliki panjang sekitar 5,8 kilometer dengan tujuh stasiun, dan pekerjaan sipilnya sudah digulirkan sejak Agustus 2023 dengan target operasi komersial pada 2029. Extended Concourse diposisikan sebagai pelengkap: sebuah lapisan tengah yang menghubungkan stasiun-stasiun tersebut sekaligus membuka ruang publik baru di perut kota.

Kedalaman 18 meter itu setara dengan bangunan enam lantai jika diukur dari permukaan jalan. Pada level tersebut, suhu udara cenderung lebih stabil dan kebisingan lalu lintas nyaris tak terdengar, sehingga kondisinya ideal untuk area belanja, ruang pamer, maupun zona istirahat yang nyaman.

Fungsi Ganda: Mobilitas dan Ekonomi

Secara teknis, Extended Concourse adalah concourse atau lantai distribusi penumpang yang diperluas hingga menjadi ruang serbaguna. Dalam operasional kereta bawah tanah, concourse berperan layaknya lobby gedung: tempat penumpang menentukan arah, membeli tiket, dan berpindah jalur. Yang dilakukan Jakarta adalah memperbesar fungsi lobby tersebut agar sanggup menampung aktivitas nontransportasi, mulai dari ritel dan kuliner hingga ruang acara komunitas.

Pendekatan ini meniru pola yang sukses di Jepang. Stasiun Tokyo, misalnya, memiliki jaringan pusat perbelanjaan bawah tanah seperti Yaesu Shopping Mall yang membentang ratusan meter dan tersambung ke puluhan gedung perkantoran. Di Osaka, kawasan Umeda membangun ekosistem bawah tanah yang menghubungkan beberapa stasiun dalam satu rangkaian lorong komersial. Hasilnya, tekanan pejalan kaki di permukaan jalan berkurang dan nilai ekonomi kawasan meningkat signifikan. Jakarta ingin mengadaptasi formula tersebut dengan karakter dan skala lokalnya sendiri.

Tantangan Teknis yang Tak Bisa Disepelekan

Menggali sedalam 18 meter di tengah kota padat bukan perkara mudah. Tanah Jakarta didominasi endapan aluvial yang lunak dengan muka air tanah yang dangkal, sehingga proses penggalian wajib disertai sistem dinding penahan tanah serta pompa drainase berkapasitas besar. Ventilasi juga menjadi krusial karena ruang bawah tanah bergantung sepenuhnya pada sistem mekanikal untuk sirkulasi udara. Ditambah lagi, konstruksi harus berlangsung tanpa memutus lalu lintas permukaan yang sudah sangat padat.

Ada pula persoalan biaya. Pembangunan infrastruktur bawah tanah umumnya menelan biaya dua sampai tiga kali lipat dibanding konstruksi di atas tanah, akibat kebutuhan teknologi penunjang dan standar keselamatan yang lebih ketat. Meski demikian, para perencana kota berargumen bahwa investasi ini sepadan: sekali dibangun, manfaatnya dinikmati puluhan tahun, baik dari sisi efisiensi transportasi maupun pertumbuhan ekonomi kawasan.

Arah ke Depan

Jika semua target tercapai, warga Jakarta pada akhir dekade ini bisa merasakan pengalaman baru: turun ke bawah permukaan jalan, berjalan kaki dengan nyaman antarstasiun, mampir ke kedai kopi, lalu naik kereta tanpa sekali pun terpapar hujan atau polusi. Inovasi semacam ini menandai pergeseran cara kota memandang ruang, yaitu tidak hanya membangun ke atas dan ke samping, tetapi juga menembus ke bawah.

Yang pasti, keberhasilan pengembangan Extended Concourse akan menjadi tolok ukur bagi kota-kota lain di Indonesia yang mulai merintis sistem angkutan cepat massal. Bila implementasinya berjalan mulus, ruang 18 meter di bawah Jakarta ini berpeluang menjadi cetak biru pengembangan kota bawah tanah nusantara di masa depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS toni-kurniadi

Reporter E-Sports. Meliput Mobile Legends, Valorant, dan industri gaming.

Comments (0)

User