Depok, Terdepan.id — Ratusan warga Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Depok memadati lapangan terbuka untuk melaksanakan ibadah Salat Istiska secara berjemaah. Pelaksanaan salat sunah ini digelar sebagai bentuk ikhtiar spiritual dalam merespons bencana kemarau panjang yang memicu kekeringan hebat, menurunnya pasokan air bersih, serta memperburuk kualitas udara di wilayah Kota Depok dan sekitarnya.
Ibadah yang berlangsung dengan penuh kekhusyukan tersebut dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari tokoh lintas generasi Muhammadiyah, pengurus persyarikatan, santri, hingga masyarakat umum. Salat dua rakaat yang diakhiri dengan penyampaian khotbah khusus tersebut bertujuan memohon ampunan kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus berdoa agar hujan berkah segera mengguyur wilayah yang terdampak fenomena cuaca ekstrem ini.
Dampak Kemarau Panjang dan Urgensi Salat Istiska
Dampak fenomena iklim global seperti El Nino yang berdampak panjang pada tahun ini dirasakan kian meluas oleh warga Kota Depok. Sumur-sumur warga di sejumlah kecamatan dilaporkan mulai mengering, sementara debit pasokan air bersih dari perusahaan daerah mengalami penurunan drastis hingga mencapai 40% dari kapasitas normal. Hal ini memaksa sebagian warga bergantung pada bantuan tangki air bersih untuk memenuhi kebutuhan harian.
Dalam khotbahnya, khatib menekankan pentingnya melakukan introspeksi diri (muhasabah) dan menghentikan perusakan lingkungan. Muhammadiyah mengingatkan bahwa krisis air tidak hanya sekadar isu iklim alami, melainkan juga cerminan dari perilaku manusia dalam mengelola sumber daya alam.
"Salat Istiska ini adalah simbol ketundukan kita kepada Sang Pencipta sekaligus momentum pertaubatan ekologis. Kita memohon penurunan hujan yang membawa rahmat, bukan azab, sambil terus berkomitmen menjaga kelestarian lingkungan hidup," ujar salah satu pimpinan daerah Muhammadiyah Depok usai pelaksanaan ibadah.
Analisis Dampak Lingkungan dan Kesehatan di Kota Depok
Berdasarkan pengamatan lapangan dan data sektoral, dampak kemarau panjang di Kota Depok telah memicu berbagai kendala sosial dan kesehatan. Tingkat polusi udara yang meningkat tajam berkorelasi langsung dengan tingginya kasus penyakit saluran pernapasan. Berikut perbandingan kondisi indikator lingkungan di Depok sebelum dan selama kemarau berlangsung:
| Indikator Pemantauan | Kondisi Musim Normal | Kondisi Musim Kemarau Saat Ini |
|---|---|---|
| Ketersediaan Air Sumur Warga | Stabil (100%) | Penurunan 40% hingga 60% |
| Indeks Kualitas Udara (AQI) | Kategori Baik (40-75) | Tidak Sehat (125-165) |
| Laporan Kasus ISPA/Bulan | Rata-rata 1.200 Kasus | Meningkat Jadi 2.800 Kasus |
| Bantuan Air Bersih Tangki | Jarang (Sesuai Permintaan) | Rata-rata 15 Tangki/Hari |
Kronologi Penanganan Krisis Kekeringan di Kota Depok
Upaya mitigasi dan penanggulangan dampak kekeringan dilakukan secara bertahap oleh otoritas setempat bersinergi dengan lembaga kemasyarakatan. Berikut kronologi langkah penanganan krisis air di Kota Depok:
- Pemetaan Wilayah Rawan Kekeringan: Pemerintah daerah bersama BPBD memetakan zona terdampak parah, terutama di wilayah kecamatan berpenduduk padat yang mengandalkan sumur dangkal.
- Mobilisasi Bantuan Air Darurat: Pendistribusian ribuan liter air bersih secara berkala menggunakan truk tangki ke titik-titik krisis air masyarakat.
- Inisiasi Gerakan Doa Bersama (Salat Istiska): Ormas keagamaan seperti Muhammadiyah mengorganisasi pelaksanaan Salat Istiska secara serentak di lapangan terbuka untuk memohon diturunkan hujan.
- Edukasi Efisiensi dan Pelestarian Air: Kampanye penghematan penggunaan air serta penyiapan lubang resapan biopori sebagai langkah persiapan menyambut musim penghujan.
Melalui penyelenggaraan Salat Istiska ini, warga berharap kondisi kekeringan yang melanda Depok dapat segera teratasi, sehingga masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas harian secara normal tanpa kesulitan mendapatkan air bersih.
Comments (0)