Teknologi

Buku Tiga Jilid Gus Hayid Bedah Peluang NU Memasuki Abad Kedua

Jelang penyelenggaraan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), hadir sebuah karya tulis berupa buku tiga jilid karya Gus Hayid yang menghadirkan perspektif me

Buku Tiga Jilid Gus Hayid Bedah Peluang NU Memasuki Abad Kedua

Jelang penyelenggaraan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), hadir sebuah karya tulis berupa buku tiga jilid karya Gus Hayid yang menghadirkan perspektif mengenai tantangan dan peluang organisasi Islam terbesar di Indonesia. Karya ini lahir pada momen yang tepat: NU tengah menapaki babak baru sebagai organisasi kebangsaan yang memasuki abad keduanya, membawa bekal warisan hampir satu abad perjuangan keilmuan dan sosial.

Warisan Seabad, Tantangan Baru

Nahdlatul Ulama lahir pada 31 Januari 1926 dan kini menjelma menjadi rumah bagi puluhan juta anggota serta ribuan pesantren di seluruh nusantara. Keberadaan itu merupakan modal besar, tetapi sekaligus menuntut kemampuan adaptasi. Isu regenerasi kader, digitalisasi dakwah, penguatan ekonomi pesantren, hingga penjagaan moderasi beragama adalah deretan persoalan kontemporer yang tidak lagi bisa dijawab dengan cara lama semata.

Dalam kerangka itulah buku tiga jilid karya Gus Hayid hadir. Ketiganya mencoba menghadirkan perspektif utuh tentang posisi NU hari ini: membaca akar sejarah, memetakan tantangan internal dan eksternal, sekaligus merumuskan peluang yang terbuka lebar di era yang serba cepat ini.

"Khazanah lama harus diterjemahkan menjadi bahasa masa kini. Tanpa itu, warisan seabad hanya akan menjadi kenangan, bukan kekuatan," demikian gagasan yang dikutip dari buku tersebut.

Bekal Strategis Menjelang Muktamar ke-35

Momentum kemunculan buku ini dinilai strategis karena berimpit dengan persiapan Muktamar ke-35 NU. Muktamar merupakan forum tertinggi organisasi tempat arah kebijakan besar ditetapkan. Gagasan yang termuat dalam tiga jilid buku tersebut berpeluang menjadi bahan diskusi para ulama, musyawarah wilayah dan cabang, hingga aktivis muda yang akan duduk dalam forum itu.

Sejumlah tema kunci yang diangkat dalam buku antara lain:

  • Regenerasi kader: menjaga kesinambungan antara generasi kiai senior dan warga muda NU;
  • Digitalisasi dakwah: memanfaatkan teknologi dan media sosial untuk menjangkau anak muda;
  • Ekonomi pesantren: menjadikan pesantren pusat kemandirian dan daya saing umat;
  • Moderasi beragama: memperkuat wajah Islam Indonesia yang rahmatan lil 'alamin.

Para cendekiawan Muslim menilai kehadiran buku semacam ini penting agar diskusi muktamar tidak berhenti pada urusan organisatoris semata, tetapi juga menyentuh gagasan besar tentang peran NU bagi bangsa dan umat.

Harapan untuk Kader Muda

Bagi generasi muda NU, buku ini diharapkan menjadi jembatan antara kecintaan pada sejarah organisasi dan keberanian berpikir strategis. Ketersediaannya menjelang muktamar memberi ruang bagi para kader untuk membaca ulang perjalanan panjang NU sebelum menentukan langkah ke depan.

Dengan tiga jilid yang saling melengkapi, karya Gus Hayid diposisikan bukan sekadar dokumentasi, melainkan undangan refleksi: bagaimana Nahdlatul Ulama menjaga ruh pendiriannya sambil berani mengambil langkah baru di abad keduanya.

[SOCIAL_TWEET]: ๐Ÿ“š Buku tiga jilid karya Gus Hayid hadir jelang Muktamar ke-35 NU! Membedah tantangan & peluang NU di abad keduanya. #NahdlatulUlama #Muktamar35 #GusHayid[SOCIAL_TG]: ๐Ÿ“– NU ABAD KEDUA โ€” Buku tiga jilid karya Gus Hayid resmi hadir menjelang Muktamar ke-35 NU. Karya ini memetakan tantangan internal, peluang eksternal, dan arah kebijakan organisasi Islam terbesar di Indonesia untuk beberapa dekade ke depan. Simak ulasan lengkapnya di Terdepan.id.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
PENULIS grace-winata

Reporter Basket. Meliput IBL, NBA, dan basket Asia.

Comments (0)

User