Kematian pendiri Republik Rakyat Tiongkok, Mao Zedong, pada 9 September 1976 menjadi salah satu peristiwa paling bersejarah di Asia modern. Kendati jutaan rakyat meratapi kepergian sang pemimpin di Lapangan Tiananmen, Beijing, kondisi kesehatan riil Mao selama bertahun-tahun sebelum wafatnya sengaja ditutupi rapat oleh Partai Komunis Tiongkok sebagai rahasia tingkat tinggi negara.
Fakta medis yang terungkap dari catatan dokter pribadinya menunjukkan bahwa penurunan kondisi fisik Mao tidak terjadi secara tiba-tiba. Di balik citra pemimpin revolusioner yang tak tergoyahkan, Mao mengalami serangkaian komplikasi kronis yang diperparah oleh gaya hidup tidak sehat serta ketergantungan obat.
Kronologi Penurunan Kondisi Fisik Mao Zedong
Berdasarkan rekaman medis dan kesaksian lingkaran dalam istana kepresidenan Zhongnanhai, penurunan kesehatan Mao berlangsung secara bertahap dalam kurun waktu beberapa tahun sebelum kejatuhannya pada September 1976:
- Awal Dekade 1970-an: Mao mulai menderita gangguan tidur parah (insomnia) yang kronis, sehingga membuatnya mengalami ketergantungan berat pada obat penenang jenis barbiturat dosis tinggi.
- Tahun 1974: Tim dokter kepresidenan mendiagnosis Mao mengidap Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS) atau penyakit saraf motorik yang merusak kemampuan motorik, berbicara, hingga menelan.
- Tahun 1976: Kondisi fisik Mao memburuk drastis setelah mengalami tiga kali serangan jantung berturut-turut dalam rentang beberapa bulan.
- 9 September 1976: Mao Zedong dinyatakan meninggal dunia pada usia 82 tahun akibat komplikasi kegagalan organ vital dan serangan jantung fatal.
Fasilitas Rahasia dan Kebiasaan Hidup Ekstrem
Catatan dokter pribadi Mao menguak bahwa ketua partai tersebut menolak standar kebersihan medis modern. Mao diketahui jarang mandi, menolak menyikat gigi secara teratur, dan hanya membersihkan tubuhnya dengan handuk basah yang diseka oleh para pengawalnya. Kebiasaan merokok tanpa henti kian memperparah infeksi paru-paru yang ia derita.
Meskipun tubuhnya terus melemah, lingkar kekuasaan di Beijing memilih merahasiakan kondisi ini demi menjaga stabilitas politik nasional di tengah pergolakan faksi-faksi pasca-Revolusi Kebudayaan.
"Dari lubuk hati terdalam, rakyat Tiongkok mencintai, memercayai, dan menghormati Ketua Mao, marxis terbesar di era kontemporer."
— Hua Guofeng, Perdana Menteri Tiongkok (18 September 1976)
Upacara Pemakaman Akbar di Tiananmen
Pada 18 September 1976, penerus Mao, Perdana Menteri Hua Guofeng, memimpin upacara duka nasional di hadapan jutaan massa di Lapangan Tiananmen. Jasad Mao kemudian diawetkan dan disemayamkan di dalam sarkofagus kristal khusus agar rakyat dapat terus memberikan penghormatan terakhir.
Pemerintah Tiongkok kala itu menegaskan kembali komitmen ideologis partai di hadapan rakyat luas dengan sejumlah poin utama:
- Menjaga loyalitas mutlak terhadap garis revolusioner dan pemikiran Mao Zedong.
- Mempertahankan kekuasaan proletariat serta persatuan partai pasca-suksesi.
- Memastikan warisan politik Mao tetap menjadi fondasi berdirinya negara komunis tersebut.
Comments (0)